Sat. Feb 29th, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Diprediksi Jadi Mata Uang Terkuat se-Asia, Ini Fakta Tren Penguatan Rupiah

2 min read

JAKARTA – Sejak awal tahun 2020, Rupiah mengalami tren penguatan terhadap nilai Dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Indonesia ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya seperti kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang membaik.

Melansir Bloomberg, pada pembukaan perdagangan di pasar spot, Jumat 24 Januari 2020, Rupiah bertengger pada level Rp13.635 per USD.

Bank Indonesia (BI) juga mengatakan penguatan nilai tukar Rupiah diproyeksi akan menjadi mata uang terkuat di Asia tahun ini. Oleh karena itu, Okezone akan merangkum fakta-fakta seputar Rupiah yang akan menjadi mata uang terbaik di Asia pada tahun ini, Jakarta, Sabtu (25/1/2020):

1. Didorong Prospek Ekonomi

Peningkatan atau penguatan Rupiah terhadap nilai tukar Dolar AS salah satunya disebabkan oleh prospek ekonomi yang meningkat. Bank Indonesia menilai hal ini merupakan hal yang wajar sebagai sebab-akibat.

“Prospek ekonomi meningkat, ya wajar rupiah menguat,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Kamis (23/1/2020).

2. Berdampak Positif Pada Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dengan menguatnya Rupiah, tentunya ini berdampak positif terhadap pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi Indonesia.

 

Gubernur BI menyatakan, nilai Rupiah mendorong kinerja Neraca Pembayaran Indonesia semakin membaik. Pada 22 Januari 2020, Rupiah menguat 1,74% dibandingkan dengan level akhir Desember 2019. “Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada 2019 yang tercatat 3,58% (ptp) atau 0,76% secara rerata,” ungkapnya.

Selain itu, kegiatan ekspor manufaktur akan meningkat seiring dengan penguatan rupiah. “Mungkin para eksportir yang komoditas penerimaan Rupiahnya kurang tapi penerimaan dolarnya baik. Di sisi lain, ekspor manufaktur baik dolar maupun Rupiahnya akan naik. Impornya juga akan dibantu untuk impor bahan baku barang modal untuk kebutuhan investasi,” Sambung Perry.

Menurutnya, kurs Rupiah yang menguat memang berdampak negatif bagi para eksportir komoditas karena hasil dari nilai Rupiah jadi lebih kecil, sebaliknya jika Rupiah melemah maka hasil nilainya akan lebih besar. Meski demikian, Perry menilai ekspor komoditas tak terlalu sensitif terhadap pergerakkan nilai tukar Rupiah, melainkan pada pergerakkan harga dan permintaan di pasar global.