Mon. Dec 9th, 2019

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Jelang Munas, Wasekjen Golkar Minta Jangan Bangun Narasi Sesat

2 min read

JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Golkar, Maman Abdurahman sangat menyayangkan atas apa yang dialami sebagian faksi di Partai Golkar atas rekomendasi Munas pada 4-6 Desember di Jakarta nanti, berlangsung musyawarah mufakat tak dimungkiri.

“Di dalam Ad/Art Golkar jelas sekali tertulis, Calon Ketua Umum harus memenuhi syarat 30 persen dukungan. Di mana proses pemilihan Ketua Umum harus melalui tiga tahap yaitu Penjaringan, Pencalonan baru setelah itu Pemilihan,” kata Maman dalam keterangannya, Minggu (17/11/2019).

Baca juga: Dedi Mulyadi Harap Tak Ada Kegaduhan di Munas Golkar

Ia pun mengkritisi apa yang dikatakan oleh juru bicara Bambang Soesatyo, Viktus Murin. Menurut Maman, saat suasana kader Golkar di seluruh Indonesia lagi terang benderang dan penuh rasa suka cita, dan jangan terlalu mendramatisir keadaan.

“Jadi saya pikir tidak perlu membangun narasi-narasi sesat. Saya khawatir nanti sesat sendiri. Kita ikuti saja mekanisme yang ada di internal partai. Bahwa ada aspirasi mendorong Pemilihan dengan Musyawarah Mufakat wajib kita hormati, dan tampung karena itu usulan dari arus bawah seluruh Indonesia dan Organisasi Kino Partai serta Sayap Partai,” sambungnya.

Ia juga menilai kekecewaan Viktus terkait usulan Rapimnas Golkar lalu, jangan sampai membuat kubu yang ingin memaksakan voting menjadi frustasi.

“Halusinasi pikiran Bung Viktus terkait kekecewaan dengan Era Orde baru dulu, jangan dibawa-bawa lagi. Sekarang sudah Era 4.0. Lagi pula tidak semua yang ada di era Orde Baru itu jelek. Oleh karena itu yang baik mari kita pertahankan dan yang buruk kita perbaiki,” tutur Maman.

Maman juga menyatakan, dorongan musyawarah mufakat yang menggema di Rapimnas adalah bagian dari evaluasi dan proses perjalanan panjang.

“Mulai dari era Bang Akbar, Pak JK, ARB, SN dan Airlangga bahwa Munas dengan cara Voting selalu meninggalkan bekas luka, dari sisa-sisa pertarungan berupa faksi-faksi yang menang atau yang kalah sehingga mewarisi konflik internal yang berkepanjangan,” tuturnya.

Ia beranggapan, munculnya Aspirasi dari seluruh kader Golkar agar Munas diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat harus dihargai. Namun hal itu tetap harus melalui mekanisme yang ada.

“Jadi saya pikir kita harus upayakan agar ini terwujud. Kalau ada yang tidak setuju musyawarah mufakat justru patut dipertanyakan itu,” pungkasnya.

Baca juga !