Mon. Jun 1st, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Kasus Corona AS Terbanyak di Dunia Lewati 100.000, Wall Street Jatuh

2 min read

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) jatuh pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu pagi WIB) imbas kasus virus corona di Amerika Serikat (AS) terus bertambah dan menjadi terbanyak di dunia.

Jumlah kasus corona di AS melewati 100.000 dengan jumlah kematian melebihi 1.500. Ini menjadi tertinggi di dunia melewati China yang merupakan pusat virus corona dan Italia.

Wall Street lengser dari penguatan tiga hari berturut-turut setelah keraguan nasib ekonomi AS muncul kembali dan jumlah kasus virus korona di negara tersebut naik.

Melansir Reuters, Jakarta, Sabtu (28/3/2020), indeks Dow Jones Industrial Average merosot 4,06% menjadi 21.636,78, indeks S&P 500 turun 3,37% menjadi 2.541,47. Sementara indeks Nasdaq Composite turun 3,79% menjadi 7.502,38.

Volume transaksi mencapai 13,4 miliar saham, terendah sejak 5 Maret.

Pelemahan Wall Street di tengah Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui paket stimulus bantuan ekonomi USD2,2 triliun, yang terbesar dalam sejarah Amerika untuk membantu warga dan perusahaan mengatasi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh virus corona atau coronavirus (Covid-19) dan menyediakan rumah sakit dengan kebutuhan alat medis yang sangat mendesak.

Amerika Serikat telah melampaui China dan Italia sebagai negara dengan kasus coronavirus terbanyak. Jumlah kasus corona di AS melewati 100.000 dan jumlah kematian melebihi 1.500 orang.

“Kami masih belum sepenuhnya memahami dampaknya ke ekonomi,” kata Massud Ghaussy, analis senior di Nasdaq IR Intelligence di New York.

“Saat ini dari sudut pandang pembuat kebijakan adalah keseimbangan antara mengelola penyebaran virus dan menguatkan ekonomi,”

Setelah pasar ditutup, Presiden Donald Trump menandatangani paket stimulus menjadi undang-undang.

RUU itu bersama dengan pelonggaran kebijakan Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya, membantu indeks S&P 500 melonjak 10,2% pada minggu ini, minggu terbaik sejak 2009.

Namun rata-rata pasar saham AS masih turun sekitar 25% dari level tertinggi Februari. Dalam kinerja tiga hari terkuat sejak 1931, indeks Dow melonjak 21% dalam tiga hari berturut-turut hingga Kamis, memantapkannya di pasar bullish, menurut satu definisi yang banyak digunakan. Bahkan setelah penurunan hari Jumat, Dow berakhir 12,8% lebih tinggi, minggu terbaik sejak 1938.

Banyak investor melihat risiko yang kuat bahwa pasar dapat jatuh jauh lebih dalam lagi karena infeksi coronavirus meningkat dan lebih banyak orang meninggal.

“Minggu depan akan tergantung pada apa yang terjadi selama akhir pekan ini,” kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest.

“Jika ada percepatan kasus virus corona di New York dan negara bagian lainnya dan layanan rumah sakit terus terkendala, maka saya pikir ini akan menjadi minggu yang berat bagi pasar.”