izmir escort alsancak escort izmir rus escort bornova escort buca escort escort izmir cratosslot baymavi vdcasino asyabahis tipobet Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Anak Stres, Kenali Tanda-tandanya! – NagaBola.net
Sat. Oct 31st, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Anak Stres, Kenali Tanda-tandanya!

2 min read

Masifnya pemberitaan mengenai penyebaran virus corona, ditambah pembatasan aktivitas di luar rumah bisa berdampak pada kesehatan mental anak-anak.

Seorang psikoterapis mengatakan bahwa saat ini manusia dihampir seluruh negara yang terdampak pandemi corona tengah mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun stres bukan saja bisa dirasakan orang dewasa tapi juga anak-anak.

Melansir dari Fox News, Dr. Tali Raviv, associate director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children’s di rumah sakit Chicago mengatakan saat stres dan rutinitas terganggu, normal bagi orang-orang dari segala usia untuk mengalami tanda-tanda gangguan kesehatan mental.

“Untuk anak-anak kecil, ini mungkin termasuk sering tangisan, mimpi buruk atau amarah. Anda juga dapat melihat anak-anak kembali ke perilaku yang sebelumnya, seperti mengisap jempol atau mengompol,” kata Raviv.

Untuk anak remaja, tambahnya, bisa terlihat dari perubahan fisiologis, seperti kurang tidur, nafsu makan menurun, berkurangnya energi, atau peningkatan gejala fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.

Kognitif atau perubahan pemikiran juga umum terjadi dan bisa berakibat menjadi pelupa. Walaupun gejala tersebut termasuk reaksi normal, Raviv mengingatkan orang tua harus mengamati perilaku anak dan memperhatikan perubahannya.

Sementara untuk anak-anak yamg memang gangguan kesehatan mental bawaan akan lebih rentan mengalami stres.

ilustrasi anak hiperaktif [shutterstock]
ilustrasi anak di rumah. [shutterstock]

“Hal terpenting yang harus dilakukan orang tua adalah memantau anak mereka dan mencatat setiap peningkatan gejala. Sedapat mungkin, keluarga harus mencoba mempertahankan rencana perawatan anak mereka, termasuk terus minum obat yang diresepkan dan mempertahankan komunikasi jarak jauh dengan tim kesehatan mental anak mereka,” paparnya.

Menurut Raviv, sebagian besar anak remaja atau orang dewasa akan kuat menghadapi stres atau trauma yang parah. Namun, pada anak-anak bisa menjadi trauma lebih lama.

Anak-anak dengan masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya juga berisiko lebih tinggi untuk masalah kesehatan mental yang lebih lama.

Raviv menjelaskan, ada tiga bagian penting untuk mendukung ketahanan anak dalam menghadapi keadaan yang penuh tekanan. Pertama, memastikan keamanan fisik dan emosional.

Ini termasuk memastikan kebutuhan fisik mereka terpenuhi seperti makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan. Serta memberikan keamanan emosional dengan memberikan informasi yang akurat dalam bahasa yang sesuai usia.

Kedua, membangun dan menjaga hubungan yang sehat. Ini termasuk membangun dan memperkuat koneksi dengan orang dewasa. Seperti pengasuh, anggota keluarga, guru, dan pelatih serta teman sebaya.

ilustrasi anak sekolah [shutterstock]
ilustrasi anak di sekolah [shutterstock]

“Juga, menghubungkan ke komunitas yang lebih besar, seperti kelompok atau sekolah berbasis agama, juga dapat membantu anak-anak membangun ketahanan mentalnya,” kata Raviv.

Ketiga, keterampilan pendukung dan pengajaran untuk mengatasi dan mengatur emosi, dalam menghadapi hal ini stres dan lainnya. Ini termasuk membantu anak-anak belajar bagaimana mengekspresikan emosi dalam kata-kata, terlibat dalam kegiatan positif.

Raviva mengatakan, jika anak mengalami gejala stres seperti di atas selama sebulan, sebaiknya orang tua mencari bantuan profesional.