Fri. May 7th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Pemerintah Lobi China Ganti Minyak Kedelai dengan CPO RI

2 min read

Jakarta, Pemerintah menyatakan akan kembali melobi Chinauntuk mengganti penggunaan minyak kedelai (soybean) mereka dengan minyak kelapa sawit. Lobi dilakukan terkait perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China saat ini.

Sebagai informasi, selama ini China memenuhi kebutuhan minyak kedelai dari AS. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan mengatakan perang dagang antara dua negara itu, membuka peluang pertumbuhan ekspor CPO Indonesia ke Negeri Tirai Bambu.

Dengan lobi tersebut diharapkan, pemerintah berharap China bisa meningkatkan permintaan CPO Indonesia.

Untuk diketahui, China menerapkan bea masuk tambahan kepada produk kedelai dan minyak kedelai AS. Di sisi lain, China berkomitmen mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan mengalihkannya kepada Energi Baru Terbarukan (EBT).

Kondisi ini diharapkan membawa peluang bagi Indonesia jika China mengganti konsumsi minyak kedelai mereka dengan CPO.

“Kami lobi mereka lagi supaya mau menggantikan soybean (minyak kedelai) yang sedang bermasalah dengan AS. Jadi ini momentum buat kita juga untuk melihat perang dagang AS-China,” katanya, Selasa (16/7).

Menurut dia, China menunjukkan respons cukup bagus atas tawaran tersebut. Namun, respons itu akan mempertimbangkan perkembangan dari ketegangan dagang antara AS dengan China.

“Dia kan juga (impor) dengan AS, nanti kalau damai bagaimana? Jadi ya semua punya kepentingan nasionalnya,” imbuhnya.

China merupakan pasar ekspor utama produk CPO Indonesia. Mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO ke China melorot 18 persen dari 499,57 ribu ton menjadi 410,56 ribu ton pada Mei 2019 (month to month/mtm).

Kondisi ini berbalik dari ekspor April yang membukukan kenaikan ekspor sebesar 41 persen dari 353,46 ribu ton menjadi 499,57 ribu ton (mtm).

Di sisi lain, perang dagang belum sepenuhnya reda. Imbas perang dagang, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun hanya mencapai 6,2 persen, terendah sejak 27 tahun terakhir. Perang dagang berhasil menggoyahkan permintaan di dalam dan luar negeri, sehingga mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi China.