Tue. Mar 2nd, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Saksikan Teror Hiu Putih dalam 47 Meters Down: Uncaged

2 min read

Sembilan puluh persen durasi film ini ada di bawah laut. Jadi buat mereka yang tidak bisa berenang atau fobia air, 47 Meters Down: Uncaged bisa jadi adalah sebuah mimpi buruk. Film ini adalah sekuel lepas dari 47 Meters Down yang baru dirilis pada 2017 lalu. Jadi meski judul dan latar tempatnya mirip, tapi karakter-karakternya berbeda.

Kalau pada film pertama karakternya adalah dua remaja yang terjebak di dalam air dalam kondisi terkurung sel, kali ini karakternya bertambah jadi empat remaja, masih perempuan juga, yang tinggal di Meksiko. Mereka nantinya terjebak juga di dalam air, tapi sesuai judulnya, mereka tak lagi terkurung dalam sel. Keempatnya yaitu Mia (Sophie Nelisse), Sasha (Corinne Foxx), Alexa (Brianne Tju), dan Nicole (Sistine Stallone).

Mia dan Sasha adalah saudara tiri, baru pindah ke Meksiko, dan hubungannya tidak akrab. Mia sering dirisak di sekolah, sementara Sasha bisa beradaptasi dan berteman akrab dengan Alexa dan Nicole. Diawali dengan kegiatan liburan senang-senang ke Semenanjung Yukatan dan berenang di area tersembunyi yang indah, keempatnya lantas memutuskan untuk menyelam ke dalam gua yang berisi kuburan dan peninggalan Suku Maya.
Awalnya, petualangan menyusuri gua bawah laut jadi pengalaman seru, sampai muncul hiu putih tanpa mata yang muncul berkali-kali memburu mereka. Yang membuat premis film ini menarik adalah, selain mereka harus lepas dari kejaran hiu, keempatnya juga harus menyiasati waktu karena isi tabung oksigen mereka terbatas. Tapi keluar dari dalam gua yang bagai labirin, pastinya bukan urusan gampang.

Pertama, premis ini mestinya bisa memberikan tontonan yang bikin supertegang, misalnya seperti film Crawl yang karakternya diburu buaya, dan belum lama ini tayang di Indonesia. Tapi sayangnya, film ini punya visual yang buruk dalam hal kejar-kejaran hiu putih dengan keempat tokoh utamanya.

Dalam banyak adegan, kengerian yang ingin ditampilkan jadi tidak maksimal gara-gara gambarnya kurang jelas, atau efek visualnya kurang canggih. Jadi boro-boro ngeri, kadang penonton bisa jadi malah bingung apa yang terjadi di layar. Ditambah lagi, karena keempat karakternya selalu memakai masker oksigen, jadilah kadang sulit membedakan wajah-wajah para pemerannya.

Selain itu, layaknya film kelas B, karakter-karakternya juga sangat tipikal film survival remaja. Penonton akan menemukan satu karakter yang sering melakukan tindakan-tindakan bodoh, membuat kita berharap agar karakter ini segera dibuat mati saja supaya kekesalan kita bisa berkurang.

Nah, tapi yang bikin film ini masih seru buat ditonton adalah, saat kita berpikir bahwa teror telah usai, mendadak ada teror-teror lanjutan yang tidak disangka-sangka. Jadi jangan tertipu oleh kelegaan-kelegaan sementara yang ditampilkan di layar.

Satu-satunya kelegaan yang ‘diizinkan’ adalah kalau keempat karakternya menemukan lubang udara untuk bernapas sejenak. Saat itulah kita juga bisa seolah-olah ikut bernapas dan rehat. Tapi selama credit title belum muncul, kejutan demi kejutan akan muncul, dan kelegaan masih harus ditunda dulu sampai film benar-benar selesai.