Thu. Dec 8th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

4 Penyebab Honda Jeblok di MotoGP 2022: Sektor Jepang-Eropa Tak Kompak, Marc Marquez Cedera Melulu

3 min read
Marc Marquez

Bola.net – Tak bisa dimungkiri tiga musim terakhir merupakan periode terburuk Honda Racing Corporation (HRC) di MotoGP. Jangankan meramaikan perebutan gelar dunia, naik podium saja mereka sangat sulit. Lalu, apa sih penyebab jebloknya performa pabrikan yang justru tercatat sebagai yang paling sukses di Grand Prix ini?

Marc Marquez

Pada 2020, Honda mengalami puasa kemenangan untuk pertama kalinya sejak GP500 1981, dan mereka sempat dicemaskan sama sekali tak meraih podium. Namun, wajah mereka akhirnya diselamatkan oleh Alex Marquez, yang kala itu berstatus debutan di Repsol Honda tetapi mampu naik podium di Le Mans dan Aragon.

taboola mid articleHonda baru menang lagi setelah Marc Marquez menang di Sachsenring pada 2021, dilanjutkan dengan kemenangan di Austin dan Emilia Romagna. Namun, musim ini, Honda kembali loyo. Setelah Pol Espargaro naik podium di Qatar, mereka sangat sulit masuk posisi 10 besar, sebelum Marc Marquez naik podium di Australia.

Bagi pabrikan yang menyabet 21 gelar dunia dalam sejarah GP500/MotoGP, tentu prestasi Honda dalam tiga musim terakhir tergolong memalukan. Apa saja sih penyebab utama dari jebloknya performa mereka? Berikut ulasannya. Simak yuk, Bolaneters!

Seperti yang diketahui, Marquez mengalami cedera patah tulang humerus kanan sejak kecelakaan hebat di Jerez, Spanyol, pada Juli 2020. Cedera itu tak pernah benar-benar pulih 100% meski dioperasi tiga kali. Belum lagi ia harus menderita cedera diplopia alias penglihatan ganda yang kerap merundung.

Cedera-cedera ini bikin Honda kehilangan referensi dalam mengembangkan motor selama tiga tahun. Bahkan pada awal musim ini, diplopia Marquez kambuh lagi usai terjatuh keras di Mandalika sehingga absen dua balapan. Pada Juni, ia juga harus absen lagi karena harus menjalani operasi keempat pada lengan kanannya.

Operasi yang digelar di Amerika Serikat itu memaksa Marquez absen enam seri, membuat Honda jadi kekurangan data untuk mengembangkan RC213V untuk 2023. Padahal, Marquez merupakan ujung tombak mereka dalam pengembangan motor tersebut, mengingat ia sukses menyabet enam gelar dunia dengannya.

Marc Marquez menyatakan bahwa sulitnya RC213V dikendarai bukanlah masalah terbesar Honda. Menurutnya, jebloknya performa mereka justru diakibatkan tak kompaknya koordinasi antara departemen balap yang bekerja di Jepang dan yang bekerja di sirkuit, alias yang ada di Eropa.

Ia menyebut informasi dan data yang diraih tim Honda di sirkuit tak diserap betul-betul oleh tim Honda yang ada di Jepang. “Masalah kami besar, tak kecil. Masalah kami bukan kurang di sana-sini saja, melainkan menyeluruh. Jadi, masalah kami bukan motor, melainkan proyeknya, yakni di area koordinasi,” ujarnya lewat MotoGP.com.

“Kami harus mengubah konsep dan cara koordinasi tim. Honda harus memahami cara mengatur segalanya lebih baik. Pasalnya, kini balapan makin banyak dan tes makin sedikit. Cara kerja Honda di pabrikan makin krusial ketimbang di sirkuit. Namun, tim yang ada di sirkuit juga harus bekerja sama dengan pabrikan,” lanjut Marquez.

Marquez juga memperingatkan Honda bahwa merombak susunan pembalap pada 2023 takkan otomatis bikin bangkit dari performa jeblok. Seperti yang diketahui, Joan Mir akan jadi pengganti Pol Espargaro di Repsol Honda dan Alex Rins menggantikan Alex Marquez di LCR Honda. Takaaki Nakagami juga nyaris digantikan Ai Ogura.

“Saat tandem baru saya tiba nanti, target saya adalah mengalahkannya. Saya tak peduli ia debutan atau seorang juara dunia seperti Joan. Namun, saya ingin tandem saya sebagai orang yang ada di sebelah garasi saya. Saya ingin kedua motor tim kami bisa menang, seperti pada 2013, ketika saya datang ke MotoGP,” ujar Marquez via DAZN.

“Saat panik, Anda ambil keputusan dalam momen yang menegangkan, mencari solusi cepat yang nantinya bisa Anda sesali. Bagusnya, tak seorang pun di tim kami tutup mata. Namun, saya bilang pada mereka, ‘Jangan berpikir bahwa mengubah susunan pembalap bakal mengatasi masalah,” lanjut pembalap berusia 29 tahun ini.

Baca juga !