Sat. Nov 27th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

92,6 Persen Anak 5 Tahun di Indonesia Alami Gigi Berlubang, Ini Penyebabnya

2 min read

Di usia berapapun, seseorang berisiko mengalami gigi berlubang atau timbulnya karies. Pemicu utamanya adalah rendahnya kebiasaan menyikat gigi dengan benar setiap hari.

Fakta menarik ditemukan, masalah gigi berlubang atau timbul karies ini sudah dialami oleh anak lima tahun. Padahal mereka baru tumbuh gigi lengkap di masa kehidupannya.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, sebanyak 88% masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi berlubang. Lebih mengejutkan lagi, sebanyak 92,6% anak usia 5-6 tahun mengalami masalah pada giginya.

Ketua Pengurus Besar PDGI Dr drg RM Sri Hananto Seno, SpBM(K), MM mengatakan, walaupun masih gigi susu yang bakal tumbuh lagi, kejadian gigi berlubang pada anak tergolong masalah fatal. Banyak pemicunya yang menyebabkan masalah gigi tersebut muncul.

Anak memegang pipi

“Anak umur 5-6 tahun hampir 93 persen giginya berlubang, sementara yang tidak itu hanya 7 persen. Ini tinggi sekali angkanya, padahal anak punya gigi susu belum lama,” papar drg Seno dalam acara Pepsodent Inisiasi Gerakan “Indonesia Tersenyum di BKGN 2019 di GBK Senayan, Jakarta, Sabtu, 7 September 2019.

Setelah gigi susu tanggal, lanjut drg Seno, pasti akan tumbuh gigi baru di umur 12 tahun. Ia menyayangkan di usia tersebut, anak-anak Indonesia sudah merasakan gigi berlubang dan karies.

Dokter Gigi Hananto menjelaskan, ada beberapa faktor pemicu masalah gigi pada anak tersebut. Misalnya, malas datang ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Padahal Anda dianjurkan bertemu dengan dokter untuk periksa gigi rutin sebagai langkah preventif.

Ditambah lagi dengan faktor lingkungan keluarga, ternyata banyak yang tidak mengajarkan anak untuk sikat gigi dengan benar. Karenanya, ibu memiliki peran penting sebagai pengingat untuk suami dan anak-anaknya agar rajin sikat gigi.

“Kalau menyikat giginya salah atau 24 jam tidak gosok gigi, calon gigi berlubang itu ada, walau setitik-setitik. Apalagi kalau masuk ke saraf gigi, tambah sakit terutama ngeluhnya di malam hari,” ucap drg Hananto.

Akibatnya, sambung drg Hananto, anak yang malas sikat gigi bisa menyebabkan gigi rusak. Nantinya anak jadi malas makan, malas belajar, hingga menyebabkan penurunan tumbuh kembang anak.

Melalui Pepsodent bersama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) kembali dihelat ke-10 kalinya. Lewat inisiasi “Indonesia Tersenyum”, seseorang juga diajak menjadi “Pahlawan Senyum”.

Division Head for Health & Wellbeing and Profesional Institution Yayasan Unilever Indonesia Drg Ratu Mirah Afifah GCClinDent, MDSc mengatakan, saat mengedukasi masyarakat untuk sikat gigi dengan benar masih banyak tantangannya. Karenanya, masih dibutuhkan edukasi berkelanjutan bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi.

“Untuk ubah perilaku dibutuhkan effort, edukasi untuk sikat gigi yang benar saja banyak yang belum tahu. Makanya kami mengajak keluarga Indonesia untuk menjaga kesehatan gigi,” kata Drg Mirah, di kesempatan sama.

Menurutnya, siapapun dapat menjadi pahlawan dalam mengedukasi, tentang pentingnya merawat kesehatan gigi. Maka siapapun pantas diapresiasi dalam hal ini.

“Kita percaya setiap individu punya kebiasaan masing-masing dalam merawat gigi. Dari orangtua, guru atau bahkan dokter gigi punya cara unik untuk membantu ajarkan merawat gigi,” imbuh Drg Mirah.