Tue. Dec 6th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Alasan Megawati Kontemplasi Minta Petunjuk Tuhan soal Penerus Jokowi

3 min read

Jakarta – Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri masih berkontemplasi mencari penerus Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2024. Elite PDIP, Junimart Girsang menyebut Megawati berkontemplasi lantaran tidak pernah bisa didiket dalam mengambil keputusan.
Junimart awalnya menyinggung terkait pemilihan Calon Presiden pada Pemilu 2014 dan 2019 juga berdasarkan kontemplasi Megawati dengan Tuhan. Menurutnya Megawati ketika itu juga mendengarkan aspirasi dan suara rakyat sebelum menetapkan pilihan.

“Sebagaimana keputusan politik Ibu Ketum tentang Calon Presiden pada Pemilu 2014 dan 2019 tidak bisa dipungkiri bahwa Ibu Ketum mengambil keputusan politik konkrit setelah melihat, mendengar aspirasi dan suara rakyat, serta yang terlebih penting beliau telah merasakan percakapan pribadi beliau dengan Tuhan,” kata Junimart saat dihubungi, Minggu (24/10/2021).

Junimart mengatakan Megawati merupakan sosok yang tidak bisa didikte ketika mengambil keputusan untuk kepentingan Indonesia. Karena itulah, kata dia, setiap keputusannya pasti bersumber dari permenungan dengan Tuhan.

“Ibu itu tidak bisa didikte dalam memutuskan sesuatu untuk kepentingan NKRI ini, dia punya sikap tersendiri dan realistis. Suka mendengar dan detail bertanya. Intinya beliau dalam setiap akhir keputusannya tetap dan konkrit memohon petunjuk berdasarkan percakapan pribadinya dari Tuhan. Ibu ini suka tanaman, penghijauan dan merawatnya. Tanaman juga diajak bicara dianggap sebagai teman. Ya Ibu memang begitu,” ucapnya.

Senada dengan Junimart, elite PDIP lainnya, Hendrawan Supratikno juga menjelaskan alasan Megawati berkontemplasi bukan karena tengah kebingungan. Menurutnya kontemplasi yang dilakukan Megawati merupakan proses yang wajar sebelum mengambil keputusan penting.

“Kontemplasi dapat diartikan sebagai proses memikirkan secara jernih dan matang. proses merenung untuk sampai kepada puncak akal budi dan nurani. Merupakan proses yang wajar dalam pengambilan keputusan yang penting,” ujarnya.Anggota DPR ini juga menyebut kontemplasi Megawati menandakan PDIP tidak terburu-buru menentukan pilihan untuk Pilpres 2024. Dia memastikan PDIP juga sudah memiliki garansi untuk mengajukan paslon sendiri.

“PDIP adalah satu-satunya partai yang berdasar ketentuan presidential threshold dapat mencalonkan paslon sendiri. Dengan demikian tidak dalam posisi yang tergesa-gesa untuk mencalonkan, atau pontang-panting meramaikan bursa lebih awal,” tuturnya.

Untuk diketahui, Megawati Soekarnoputri belum menentukan siapa calon presiden yang bakal diusung PDIP pada Pilpres 2024. Megawati masih berkontemplasi mencari penerus Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Masih berkontemplasinya Megawati soal penerus Jokowi itu diungkap Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, di kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Sabtu (23/10). Hasto mengatakan Megawati mendengar suara rakyat dan memohon petunjuk Tuhan sebelum menentukan siapa capres dari PDIP.

“Urusan siapa yang akan menjadi presiden yang akan datang, partai tentu saja mengambil pertimbangan matang mendengarkan aspirasi rakyat dan itu yang dilakukan Ibu Megawati Soekarnoputri. Termasuk melakukan kontemplasi mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, terhadap sosok pemimpin yang benar-benar layak untuk meneruskan kepemimpinan dari Pak Jokowi,” kata Hasto.

Hasto menuturkan Megawati memiliki banyak pertimbangan sebelum memberikan dukungan terhadap calon presiden. Hal yang sama, lanjutnya, juga dilakukan Megawati sebelum memberikan dukungan kepada Jokowi untuk maju di Pilpres 2014 dan 2019.

Hasto kemudian bicara soal sejumlah nama kader potensial PDIP yang bisa saja diusung untuk Pilpres 2024. Nama Ketua DPR RI Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ada di dalamnya.

“Partai terus menyiapkan langkah-langkah kaderisasi bagi hadirnya pemimpin untuk bangsa dan negara termasuk di dalamnya ada Mbak Puan, ada Pak Ganjar Pranowo, dari kalangan pemerintahan ada Bu Risma kemudian ada Pak Anas dari Banyuwangi, ada Pak Oli dan kalau dari jajaran internal partai yang tidak duduk di dalam pemerintahan, ada juga sosok seperti Mas Prananda Prabowo, Pak Ahmad Basarah, dan sebagainya,” ujarnya.

Baca juga !