Sun. Oct 2nd, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Biden Bela Jenderal AS yang Diam-diam Telepon China Usai Trump Kalah Pilpres

2 min read

Washington DC –

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menyatakan dukungan untuk jenderal militer top AS, Mark Milley, yang baru saja dilaporkan sempat diam-diam menghubungi China karena khawatir mantan Presiden Donald Trump bisa saja memicu serangan nuklir usai kalah pilpres tahun 2020 lalu.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (16/9/2021), kutipan buku berjudul ‘Peril’ yang ditulis oleh penulis sejarah kepresidenan Bob Woodward dan rekan penulisnya, Robert Costa, mengungkapkan bahwa Milley yang menjabat Kepala Staf Gabungan AS dua kali menghubungi Jenderal Li Zuocheng dari Tentara Pembebasan China untuk menenangkan situasi setelah Trump kalah dari Biden.

Dalam percakapan telepon itu, Milley disebut memberi kepastian kepada Jenderal Li bahwa pemerintah AS stabil dan bahwa AS tidak akan menyerang China, serta jikalau akan ada serangan, dirinya akan memberitahu China lebih dulu.

Kutipan buku yang dijadwalkan akan dirilis pada 21 September mendatang itu juga menggambarkan Milley mengorganisir Pentagon dan komunitas intelijen AS untuk menolak setiap langkah yang diambil Trump untuk meningkatkan ketegangan dengan China atau Iran setelah dia kalah pilpres November 2020.

Panggilan telepon rahasia yang dilakukan Milley terhadap China itu memicu kekhawatiran bahwa Milley mengabaikan kendali sipil, namun Biden membelanya dalam pernyataan pada Rabu (15/9) waktu setempat.

“Saya memiliki kepercayaan besar pada Jenderal Milley,” tegas Biden.

Politikus Partai Republik yang menaungi Trump, sebelumnya menyerukan agar Biden memecat Milley. Mereka menuduh Milley telah merusak kendali sipil atas militer dalam panggilan telepon kepada China pada Oktober 2020 dan Januari 2021 lalu, saat Trump menolak menerima kekalahan dalam pilpres.

Kantor Milley dalam tanggapannya menegaskan bahwa panggilan yang dilakukan sang Jenderal AS dalam kapasitasnya sebagai Kepala Staf Gabungan pada saat itu telah dikoordinasikan dengan Pentagon dan seluruh jajaran pemerintah AS.

“Panggilannya dengan China dan yang lain pada Oktober dan Januari sesuai dengan tugas-tugas dan tanggung jawab dalam memberikan jaminan demi menjaga stabilitas strategis,” tegas juru bicara Milley, Kolonel Dave Butler, dalam pernyataannya.

“Semua panggilan dari Kepala (Staf Gabungan) kepada mitra-mitranya, termasuk yang dilaporkan itu, telah dikelola, dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan Departemen Pertahanan dan antarlembaga. Jenderal Milley terus bertindak dan memberikan saran dalam wewenangnya sesuai tradisi yang sah untuk kendali sipil atas militer dan sumpahnya pada Konstitusi,” imbuhnya.

Buku yang ditulis Woodward dan Costa itu juga menyebut bahwa setelah pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol pada Januari 2021, Milley memberitahu para stafnya bahwa jika Trump yang ‘tak terkendali’ memerintahkan serangan nuklir, dirinya harus diberitahu terlebih dulu sebelum perintah itu dilaksanakan.

Hal tersebut, menurut Butler, juga merupakan prosedur normal.

Secara terpisah, Pentagon juga menyatakan dukungan yang kuat untuk Milley. “Menteri memiliki kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya pada Jenderal Milley dan dalam perannya sebagai Kepala Staf Gabungan,” sebut juru bicara Pentagon, John Kirby, kepada wartawan setempat.

Trump dalam tanggapannya menuduh Milley melakukan ‘pengkhianatan’ dan menyebut penggambaran dirinya mungkin menyerang China secara sepihak ‘sungguh konyol’.

Baca juga !