Tue. Dec 6th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Bisnis Peternakan Ayam Nggak Bisa Sembarangan, Baca Tipsnya di Sini

2 min read

Jakarta – Cara berternak ayam semakin berkembang. Kini ayam tak lagi bisa diternak dengan metode pengandangan, mereka dikembang biakan dengan mementingkan kesejahteraannya dan berkembang tanpa kandang.
Hasil dari peternakan ayam dengan metode yang akrab disebut animal wefare itu adalah telur cage-free. Telur jenis ini sudah cukup banyak ditemukan di pasaran. Meskipun harganya lebih tinggi dari telur curah, cukup banyak juga peminatnya.

“Mengelola sistem peternakan ayam bebas sangkar cukup kompleks. Kesejahteraan hewan (kesrawan) atau akrab disebut dengan Animal Welfare menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam rantai produksi telur cage-free,” kata Direktur Utama PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS), produsen telur cage-free, Roby Tjahya Dharma Gandawijaya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/9/2021).

Dia pun menjelaskan harga telur cage-free mahal cukup wajar karena dari kualitas telur cage-free yang lebih unggul.

“Tidak bau amis, cangkang lebih tebal, kaya akan nutrisi, dan yang paling utama anti alergi. Jadi mereka yang awalnya alergi terhadap telur akan menjadi aman mengkonsumsi telur ini,” terang dia.

Tingginya kualitas telur cage-free merupakan buah panjang proses rantai produksi yang pastinya memakan biaya. Dengan mengkonsumsi telur cage-free, lanjut Roby, sama halnya dengan memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial terhadap unggas dan lingkungan.

Peternakan ayam bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas sesuai dengan naluri alamiah. Seperti makan, minum, bersarang, bertengger, dan berinteraksi dengan ayam lain.

Atas dasar itu, Roby mendesain peternakan dengan manajemen kandang yang dapat memfasilitasi perilaku alami ayam. “Kita menerapkan lima prinsip kebebasan dalam manajemen pengelolaan kandang,” ujarnya.

Prinsip itu antara lain ayam harus bebas dari rasa haus dan lapar yang direalisasikan dengan penggunaan teknologi Roxell Feeding System dan Automatic Nipple Drinking System.

Kemudian ayam yang dipelihara harus bebas dari penyiksaan fisik dan rasa ketidaknyamanan. Maka area pemeliharaan perlu diperhatikan agar ayam tidak berdesak-desakan.
Prinsip berikutnya adalah ayam harus bebas mengekspresikan perilaku alami sehingga area pemeliharaan didesain sedemikian rupa agar sesuai habitatnya.
“Ada sekam setebal 8 cm agar ayam bisa mengais-ais, mandi pasir, dan mematuk. Ada juga tempat ayam bertengger,” terang Roby yang sudah mengelola peternakan bebas sangkar sejak tahun 2003.

Manajemen kotoran juga menjadi aspek yang mendapat perhatian. Maka itu area pemeliharaan dibuat seperti rumah panggung dengan ketinggian sampai 2,5 meter dari permukaan tanah. Tujuannya agar meminimalisir kadar amonia terhirup ayam.

Pakan yang berkualitas turut berkontribusi pada biaya produksi. Pakan berasal dari jagung yang dikeringkan sampai kadar air tinggal 11 persen. Lalu diracik dengan bahan lain seperti jinten.

“Pakan juga dicampur produk herbal yang membuat ayam kebal penyakit dan terhindar dari penggunaan obat-obatan kimia. Jadi kami menjamin telur akan terbebas dari residu kimia,” ulas Roby.

Kualitas telur makin terjaga berkat pengadopsian sistem Vencomatic Autonest yang menjamin hasil panen telur terjaga kebersihan tanpa campur tangan manusia.

“Produk kami juga selalu dites uji lab setiap bulan di lembaga pemerintah dan swasta agar hasilnya lebih objektif,” kata pemilik peternakan yang mampu produksi 2 ton telur cage-free per hari ini.

Baca juga !