Thu. Feb 2nd, 2023

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

FX Rudy Pro Barisan Celeng, Dukung Ganjar Capres-Serang Logika Bambang Pacul

3 min read

Solo – Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo sejalan dengan kader yang dianggap sebagai celeng karena sudah mendeklarasikan capres. Bahkan mantan Wali Kota Solo itu terang-terangan menyatakan mendukung Gubernur Jateng Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024.
“Itulah demokrasi, cepat lebih menguntungkan itu singkatan celeng. Ini kalau yang namanya mengenalkan orang tidak dari awal ya kapan kenalnya,” tuturnya kepada wartawan, Kamis (14/10).

Rudy menambahkan, deklarasi itu merupakan inisiatif masing-masing kader dan bukan perintah dari Ganjar. Dasarnya adalah melihat kinerja Ganjar selama menjabat sebagai Gubernur dianggap cukup bagus.

“Dan Pak Ganjar sendiri juga tidak minta untuk dideklarasikan, yang mendeklarasikan adalah rakyat Indonesia yang mengetahui kinerjanya. Jadi tidak salah teman-teman mendeklarasikan itu,” urainya.

Rudy menyampaikan, sebenarnya kader sudah mendapatkan instruksi dari Ketum Megawati Soekarnoputri dilarang bicara capres dan cawapres. Namun, deklarasi tersebut merupakan demokrasi, dan masyarakat punya hak menyampaikan pendapat.

“Kalau Solo mau deklarasi ya kami persilakan nanti silakan ke DPC dan aspirasi nanti akan kita serahkan kepada DPP dan DPD, itulah kinerja celeng. Celeng adalah bagaimana menjalankan perintah partai sesuai aturan yang ada,” ucap Rudy.

Rudy lalu menyinggung kasus deklarasi di PDIP bukan hanya mendukung Ganjar Pranowo, melainkan Puan Maharani. Dia berharap polemik banteng vs celeng ini tak perlu diperpanjang lagi.

“Dan yang deklarasi tidak hanya (pendukung0 Ganjar kok, (pendukung) Mbak Puan juga deklarasi. Jika ini terus diperkeruh lama-kelamaan banteng-banteng celeng ini akan deklarasi semua,” urai Rudy.

Pada kesempatan itu, Rudy juga menyatakan dukungannya terhadap Ganjar di Pilpres 2024. Dia bahkan tidak peduli jika nantinya apa yang dilakukannya ini akan mendapatkan sanksi dari DPP.

“Kalau bangsa Indonesia ingin mendapatkan anugerah (ganjaran) ya Ganjar Pranowo, ini dikatakan deklarasi ya monggo yang punya hak untuk memberi sanksi itu DPP,” tegasnya.

Kemudian terkait dengan ungkapan Ketua DPD PDIP Jateng Bambang ‘Pacul’ Wuryanto yang menyebut kader celeng bagi mereka yang sudah mendeklarasikan capres, Rudy mengaku tersinggung.

“Saya menanggapi perkataan Mas Bambang Pacul ini menurut saya tidak pernah menggunakan logika berpikir,” ujarnya.

Rudy yakin para kader yang dinilai mendahului arahan Ketum Megawati Soekarnoputri itu pun bakal kembali ke rahim banteng. Dia berharap banteng vs celeng di internal PDIP tidak lagi menjadi polemik.

“Kalau ketum sudah memutuskan A pasti celeng-celeng ikut A. Saya berharap sudahlah tidak perlu mengomentari deklarasi-deklarasi siapapun, karena yang namanya pemilihan presiden tidak hanya PDIP yang memilih, yang memilih rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta,” pesan mantan Wali Kota Solo itu.

Di sisi lain, Rudy mengaku senang disebut banteng celeng. Menurutnya justru banteng celeng inilah yang menurutnya berjalan lurus.

“Diambil positifnya saja itulah yang namanya kader yang tegak lurus seperti celeng itulah kader yang sesungguhnya, bukan yang banteng celengan, kalau banteng celengan itu hanya berpikir bagaimana mengumpulkan pundi-pundi saja,” ungkapnya.

“Banteng celeng ini adalah kader yang berjuang mencari suara sebanyak-banyaknya, tidak menggantungkan kepada orang lain tapi bagaimana mendapatkan sesuatu yang baik bagi bangsa dan negara,” sambungnya.

Menurut Ketua DPC PDIP Solo itu, kader boleh saja mendeklarasikan pilihannya tetapi keputusan tetap di tangan Ketua Umum PDIP, seperti muncul nama Gibran Rakabuming Raka di Pilkada Solo lalu.

“Kalau Ketum memutuskan yang lain itu keputusan Ketum. Solo kan sudah pernah mengalami, partai sudah punya pencalonan namun ketika Ketum memutuskan Mas Gibran dan Pak Teguh, hukumnya wajib PDIP berjuang untuk memenangkan,” terang Rudy.

Kondisi tersebut menurutnya sama dengan yang terjadi untuk capres 2024. Meskipun kader memilihkan calonnya, tetapi jika ketum sudah menetapkan maka mau tidak mau kader harus mengikuti petunjuk dan arahan dari Ketum tersebut.

“Sama dengan 2024 tidak perlu diributkan, deklarasi ya biarkan, demokrasi mulai sekarang menyampaikan, menawarkan seseorang kepada rakyat adalah hal yang penting,” tuturnya.

Rudy menambahkan, polemik deklarasi sehingga muncul isu ‘banteng vs celeng’ ini tidak perlu lagi untuk diperdebatkan. Pasalnya, mengenai pemilihan presiden nantinya tidak hanya kader dari PDIP saja yang bisa memilih melainkan rakyat Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih.

“Saya berharap sudahlah tidak perlu mengomentari deklarasi-deklarasi siapapun, karena yang namanya pemilihan presiden tidak hanya PDIP yang memilih, yang memilih rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta,” ucapnya.

Rudy juga menyinggung soal adanya kader yang merangkap jabatan. Menurutnya, rangkap jabatan tidak perlu terjadi mengingat masih banyak kader yang juga berkompeten untuk mengisi jabatan tersebut.

“Untuk itu Jateng ini jangan didobel-dobel kepengurusannya, mau DPP atau DPD saja sehingga kalau DPP dan DPD membuat keputusan lha ini keputusan DPP atau DPD?” tegasnya.

Rudy juga mengatakan, sudah menyampaikan hal ini kepada Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri. Dia berharap, ada pembenahan di dalam pengurusan partai PDIP.

“Sudah saya sampaikan ke Ketum agar di Jateng ini segera dibenahi, ketua DPD siapa. Kalau mas Bambang Pacul jadi ketua DPD tidak jadi pengurus DPP, kok kayak kurang kader,” ucapnya.

Baca juga !