Tue. Jan 31st, 2023

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Gotabaya Rajapaksa: Dulu Pahlawan, Kini Presiden yang Kabur dari Sri Lanka

3 min read

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa pernah dikagumi atas peran penting dan keberaniannya dalam menumpas pemberontak separatis Macan Tamil.

Pada 2009 nama Rajapaksa semakin harum. Ia berhasil mengakhir perang saudara yang sudah berjalan selama kurang lebih 16 tahun.

Setelah berbagai jasa, nasib Rajapaksa berubah drastis. Kini, ia tengah didesak rakyatnya untuk mundur dari kursi kepresidenan sebagai bentuk tanggung jawab atas negaranya yang kacau balau akibat krisis ekonomi berkelanjutan.

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. Foto: Justin Lane/Pool via REUTERS

Bukannya bertanggung jawab, Rajapaksa malah mengambil tindakan mengherankan. Ia justru memilih untuk melarikan diri dari negaranya, memboyong sang Istri ke negara asing, dan meninggalkan rakyatnya di tengah keruntuhan ekonomi.

Diberitakan Reuters, seorang pejabat imigrasi mengatakan, Rajapaksa, istrinya, dan dua pengawal meninggalkan negara itu dengan pesawat angkatan udara Sri Lanka pada Rabu (13/7/2022) dini hari.

Sebuah sumber pemerintah mengatakan, dia pergi ke Male, ibu kota Maladewa.

Sabtu (9/7/2022) lalu, pengunjuk rasa Sri Lanka berhasil menyerbu Istana Presiden, Kantor Sekretariat Presiden, dan kediaman resmi Perdana Menteri.

Rajapaksa dikabarkan telah meninggalkan kediaman pada malam sebelum penyerbuan melalui pintu belakang di bawah pengawalan personel angkatan laut dan dibawa pergi dengan perahu.

Sejak saat itu, pria berusia 73 tahun itu belum menunjukkan diri di muka publik.

Massa yang masih menduduki kediamannya pun menolak untuk pergi. Mereka menuntut pengunduran diri Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

Ketua Parlemen Mahinda Yapa Abeywardena pada akhir pekan pun mengumumkan, Presiden Gotabaya Rajapaksa bersedia mengundurkan diri pada Rabu dan memenuhi tuntutan pengunjuk rasa.

Seorang petugas polisi mencoba peralatan olahraga di rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa di Kolombo, Sri Lanka. Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS

Gotabaya Rajapaksa adalah bagian dari salah satu keluarga dinasti politik paling kuat di Sri Lanka. Saudara dan kerabatnya memiliki karier yang panjang nan cemerlang dalam dunia politik dan kerabatnya.

Berbeda dengan kakaknya, Mahinda Rajapaksa, yang mengepakkan sayap di ranah politik sejak usia muda, Gotabaya tidak memulai kariernya dalam pemerintahan.

Ia bergabung dengan tentara pada usia 21 dan bekerja selama dua dekade hingga naik ke pangkat letnan kolonel. Gotabaya pada akhirnya mengambil pensiun dini dan pindah ke Amerika Serikat, di mana ia bekerja di bidang teknologi informasi pada 1998.

Gotabaya mulai terjun ke politik saat ia kembali ke Sri Lanka pada 2005, tahun dimana saudaranya Mahinda menjadi presiden.

Di bawah kepresidenan saudara laki-lakinya, Gotabaya Rajapaksa diangkat sebagai menteri pertahanan—peran yang akan membuatnya memainkan peran penting dalam sejarah Sri Lanka.

Ia memimpin perang melawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), sebuah kelompok gerilya yang berjuang untuk sebuah negara merdeka di utara dan timur negara itu.

Berakhirnya perang saudara adalah momen yang dirayakan bagi sebagian besar warga Sri Lanka. Namun, PBB menuduh kedua belah pihak melakukan kekejaman dan memperkirakan ada sebanyak 40.000 warga sipil Tamil tewas dalam beberapa bulan terakhir perang saja.

Pihak pemerintah mengatakan, hal ini terjadi pemberontak menjadikan ribuan warga sipil sebagai perisai hidup.

Sementara Gotabaya dipandang sebagai pahlawan perang oleh banyak mayoritas Buddha Sinhala di pulau itu, yang lain menuduhnya melakukan kejahatan perang termasuk pembunuhan, penyiksaan, dan penghilangan kritikus pemerintah.

Gotabaya membantah seluruh tuduhan yang ditujukan padanya.

Gotabaya pun turun dari jabatannya sebagai menteri pertahanan pada 2015 ketika masa jabatan Mahinda sebagai presiden berakhir.

Dengan dilarangnya Mahinda untuk kembali mencalonkan diri karena batas dua masa jabatan, Gotabaya pun menjadi kandidat yang jelas untuk mewakili keluarga Rajapaksa dan Partai Podujana Sri Lanka mereka sebagai presiden.

Gotabaya memenangkan pemilihan presiden pada November 2019 dengan selisih yang besar. Ia berjanji untuk mewakili semua warga Sri Lanka terlepas dari identitas etnis dan agama mereka.

Pada Agustus 2020, partainya meningkatkan mayoritasnya menjadi dua pertiga di parlemen, memungkinkan pencabutan undang-undang yang membatasi kekuasaan presiden, termasuk batas dua masa jabatan.

Gotabaya pun mengangkat kembali Mahinda sebagai perdana menteri dan menempatkan banyak kerabat lainnya di atas kursi menteri.

Namun, cengkeraman kekuasaan keluarga Rajapaksa tidak bertahan lama.

Dipukul keras oleh pandemi dan pemotongan pajak populis, Sri Lanka jatuh ke dalam krisis ekonomi terburuk sejak akhir pemerintahan kolonial pada tahun 1948.

Di tengah meningkatnya biaya hidup, kekurangan bahan pokok dimana-mana, dan pemadaman listrik jangka panjang, amarah warga kian memuncak setiap harinya. Protes dan unjuk rasa pun membanjiri jalanan Sri Lanka dengan penduduk menuntut pemerintah untuk segera bertindak atau mundur dari jabatan mereka.

Mahinda mengundurkan diri perdana menteri setelah gerombolan pendukungnya menyerang pengunjuk rasa anti-pemerintah pada 9 Mei silam. Ia digantikan oleh Ranil Wickremesinghe.

Gotabaya, yang popularitasnya kian menurun drastis, pun menjadi Rajapaksa terakhir di kursi pemerintah. Ia semakin terisolasi, jarang terlihat meninggalkan kediamannya kecuali ketika muncul kerusuhan parah.

Baca juga !