Wed. Dec 7th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Gudeg Pawon: Nikmatnya Makan Gudeg Basah di Dapur Tradisional yang Legendaris

3 min read

Yogyakarta – Sekali nyicip gudeg legendaris di Yogyakarta ini bikin ketagihan. Dimasak di dapur tradisional dan bisa makan di dapur sambil berbincang dengan penjualnya.
Gudeg merupakan kuline ikonik Jogja. Ada beragam versi gudeg yang dijual dan dikenal di wilayah Jawa Tengah. Ada yang kering, setengah basah dan basah. Masing-masing punya ciri khas dan racikan.

Salah satu yang legendaris adalah Gudeg Pawon yang berlokasi Jalan Janturan UH/IV No 36, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. Tempat makan gudeg ini sudah beroperasi sejak tahun 1958.

Sudah ada sejak 63 tahun silam, Gudeg Pawon memang dikelola secara turun temurun. Kini dikelola oleh Wanto yang merupakan generasi kedua.

Penasaran dengan rasanya, detikcom dalam rangkaian Ekspedisi 3.000 Kilometer Bersama Wuling menyambangi warungnya (07/10). Ternyata warung gudeg ini jam bukanya berubah sejak masa pandemi karena aturan PPKM.

1. Sempat Berpindah-pindah Tempat
Dapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria
Kepadadetikcom (07/10),Wanto menceritakan perjalanan usahagudegnya. Ia mengatakan bahwa Gudeg Pawon awalnya dirintis oleh sang ibu pada tahun 1958.

Saat itu ibunya jualan gudeg sempat pindah ke beberapa tempat. Ia berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lainnya. “Ya pindah-pindah di pasar-pasar sekitar Yogyakarta. Dulu pernah di pasar Sentuh,” ujar Wanto.

Kemudian di tahun 2000 barulah ibunya memutuskan untuk berjualan di rumah. Saat itu, gudeg hanya dipromosikan dari mulut ke mulut hingga akhirnya menjadi ramai dan populer.

2. Disajikan Langsung di Dapur Tradisional
Dapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria
Bukan di etalase, gudeg yang ditawarkan olehWanto ini disajikan langsung di dapur tradisional. Karenanya warung makannya tersebut dinamakan Gudeg Pawon.

Kata ‘pawon’ diambil dari bahasa Jawa artinya dapur. Dapurnya sangat tradisional, masih menggunakan tungku batu bata dan apikayu bakar. Aroma wangi bumbu bisa langsung dihirup sedap oleh pembeli. Persis seperti di dapur sendiri.

Menurut Wanto, teknik memasak secara tradisional itu bisa berpengaruh pada cita rasa masakan. “Kalau masaknya pakai kayu bayar itu jadi lebih enak rasanya,” tutur Wanto.

Selain itu gudeg juga menggunakan resep secara turun temurun. Oleh karena itu kelezatan Gudeg Pawon konsisten dari dulu hingga saat ini. Nyaris tak ada yang berubah.
3. Gudeg Basah yang Tidak Terlalu Manis
Dapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria
Ketika masuk ke dapurnya, aroma wangi santan dan bumbu meguar harum dari tungku-tungkunya. Pembeli akan langsung dilayani untuk mendapatkan seporsi gudeg. Gudeg yang ditawarkan oleh Gudeg Pawon ini merupakan gudeg basah.
Berbeda dengan gudeg pada umumnya dengan rasa manis, gudeg yang satu ini justru rasanya lebih gurih dan tidak terlalu manis. Meskipun warnanya merah kecokelatan seperti gudeg umumnya. Seporsi gudeg disajikan dengan sambal goreng krecek (kulit sapi) yang kemerahan.

Ada dua pilihan lauk di Gudeg Pawon, yaitu ada lauk telur dan ada pula lauk opor ayam. Harga yang ditawarkan berkisar mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 45.000. Untuk opor ayam bisa memilih paha, dada, sayap, bahkan leher dan ceker juga tersedia.

Porsi yang disajikan juga mengenyangkan. Sambal goreng kreceknya merah kecokelatan diselingi irisan tempe dan cabe rawit hijau utuh. Sementara opor ayamnya berupa ayam kampung, gurih sedap. Nasinya yang pulen enak masih dimasak dengan kukusan tembaga dengan kukusan bambu.

4. Perubahan Jam Buka Gudeg Pawon
Dapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria
Gudeg Pawon dikenal sebagai destinasi kuliner malam. Itu karena jam buka Gudeg Pawon yang dimulai dari pukul 22.00 WIB. Namun, semenjak pandemi ada perubahan jam buka.

Wanto mengatakan bahwa selama pandemi Gudeg Pawon miliknya buka lebih sore, yakni pada pukul 18.00 WIB sampai jam 21.00 WIB. Itu karena sepinya wisatawan pada malam hari dampak dari pandemi COVID-19.

“Karena pandemi itu malam sepi. Gak boleh malam-malam buka sama pemerintah. Wisatawan juga berkurang semua kota ditutup, gak ada yang ke Jogja,” tutur Wanto.

Biasanya antrean Gudeg Pawon sampaimengular karena dapur yang terbataskapasitasnya. Namun, saatdetikcom mampir antrean tidak begitu nampak, tetapi pengunjung terbilang ramai.
5. Sempat Tutup 2 Bulan
Dapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria
Dampak pandemi COVID-19 memang cukup dirasakan oleh Gudeg Pawon. Wanto menuturkan bahwa saat awal pandemi masuk ke Indonesia warungnya sempat tutup selama 2 bulan mengikuti aturan pemerintah.
“Nangis dua bulan itu gak buka sama sekali,” tuturnya.

Karena pandemi juga membuat warung gudegnya sepi pelanggan. Sebelum ada pandemi COVID-19, warung gudegnya bisa menghabiskan nasi sebanyak 12 kilogram.

Namun, saat pandemi ia hanya bisa menghabiskan 7 kilogram nasi saja. Meski begitu, Wanto sangat bersyukur karena seiring menurunnya level PPKM, warungnya kembali ramai.

Baca juga !