Tue. Dec 6th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Harga Minyak Dunia Meroket ke USD 113,94 per Barel, Apa Saja Pemicunya?

3 min read

Jakarta – Harga minyak dunia melejit hingga menembus rekor baru pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB. Kenaikan harga minyak tanpa henti itu terjadi setelah Rusia menyerang Ukraina sejak pekan lalu.

Harga minyak berjangka jenis Brent untuk pengiriman Mei mencapai US$ 113,94 per barel selama sesi, sebelum akhirnya ditutup di US$ 112,93 per barel. Angka itu melonjak US$ 7,96 atau 7,6 persen dibanding sehari sebelumnya.

Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April menembus level tertinggi US$ 112,51 per barel. Pada akhir perdagangan, harga komoditas itu tercatat naik US$ 7,19 atau 7 persen lebih tinggi ketimbang sehari sebelumnya US$ 110,6 per barel.

Meroketnya harga minyak terjadi di tengah ekspektasi bahwa pasar akan tetap kekurangan pasokan selama berbulan-bulan mendatang menyusul sanksi terhadap Moskow dan banjir divestasi dari aset minyak Rusia oleh perusahaan besar.

Harga minyak reli hingga penutupan perdagangan dengan volume besar, dengan akhirnya patokan global minyak mentah Brent berada di harga tertinggi sejak Juni 2014. Sedangkan penyelesaian minyak mentah AS adalah yang tertinggi sejak Mei 2011.

Pada pekan ini, harga minyak Brent naik lebih dari 15 persen. Lonjakan harga tersebut terimbas sentimen negara-negara Barat yang menanggapi serangan Moskow dengan berbagai sanksi. Sejumlah sanksi itu menargetkan transaksi keuangan dan bank, yang dirancang untuk memukul ekonomi Rusia.

Adapun berbagai sanksi tersebut menghambat kemampuan ekspor dari Rusia. Salah satunya, ekspor minyak Rusia yang menyumbang sekitar 8 persen dari pasokan global, atau sekitar 4 juta hingga 5 juta barel per hari, lebih banyak daripada negara mana pun selain Arab Saudi.

Presiden Lipow Oil Associates di Houston, Andrew Lipow, menyebutkan pasar telah memprediksi bakal ada gangguan pasokan minyak dunia usai dijatuhkannya berbagai sanksi ke Rusia tersebut. “Setidaknya sebagian dari hampir 4 juta barel per hari minyak yang dijual ke AS dan Uni Eropa.”

Sementara itu, analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan menyebutkan, jebloknya permintaan melalui harga yang masih lebih tinggi bakal menjadi satu-satunya mekanisme penyeimbangan kembali yang memadai.

Dari segi pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC + — termasuk Rusia di dalamnya — tetap pada rencana jangka panjang untuk hanya meningkatkan produksi 400.000 barel per hari.

Sebelumnya sejumlah negara anggota OPEC dan sekutunya itu secara rutin gagal mencapai target produksinya. Padahal di saat yang sama, permintaan minyak di seluruh dunia saat ini telah melonjak ke level sebelum pandemi.

Dengan ketidakseimbangan permintaan dan pasokan, maka sejumlah negara-negara besar menurunkan persediaan mereka untuk menutupi kekurangan tersebut. Penyulingan dan pembeli minyak lainnya pun memperebut pasokan minyak tersebut.

Di tengah kondisi yang kian buruk itu, Gedung Putih pada Rabu kemarin, 2 Maret 2022, mengatakan “sangat terbuka” untuk menargetkan minyak dan gas Rusia dengan sanksi. Pernyataan itu dinilai sejumlah analis dapat melecut harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Persediaan minyak AS belakangan terus menurun. Tangki utama Cushing, pusat minyak mentah Oklahoma berada pada level terendah sejak 2018, dan cadangan strategis AS turun ke level terendah hampir 20 tahun. Adapun pelepasan 60 juta barel minyak yang disepakati oleh negara-negara anggota Badan Energi Internasional gagal meyakinkan pasar dan harga memperpanjang reli mereka.

Sedangkan perdagangan minyak Rusia sudah kacau karena produsen menunda penjualan, importir menolak kapal Rusia dan pembeli di seluruh dunia mencari minyak mentah di tempat lain. Hal tersebut karena sanksi Barat dan penarikan oleh perusahaan swasta menekan Rusia.

Kemarin, pedagang Trafigura mengatakan telah membekukan investasinya di Rusia, sehari setelah banyak perusahaan minyak global mengumumkan rencana untuk melepaskan investasi Rusia mereka. Beberapa perusahaan migas itu adalah Exxon Mobil, BP dan Shell. Hal-hal tersebut yang kemudian turut mempengaruhi lonjakan harga minyak dunia.

Baca juga !