Tue. Nov 29th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Ini yang Dilakukan Bung Karno Saat Peristiwa G30S Terjadi

4 min read

Di Manakah posisi Soekarno saat peristiwa G30S terjadi?

Kamis 30 September 1965 malam, Presiden Sukarno atau Bung Karno hadir memberikan sambutan pada pertemuan Persatuan Insinyur Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta.

Pada hari yang sama 30 September 1965 terjadi penculikan enam orang jenderal dari kediamannya saat malam hari.

Keenam jenderal itu dibawa ke Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, di mana mereka ditembak dan dimasukkan ke dalam sumur.

Orang-orang yang berada di balik peristiwa itu mengatasnamakan tindakan mereka sebagai�Gerakan 30 September�(G30S).

Gerakan itu dilakukan dengan dalih sebagai upaya melindungi Presiden�Soekarno�dari kudeta yang diduga direncanakan oleh Dewan Jenderal.

Seperti apa peristiwa yang terjadi pada 30 September-1 Oktober 1965 dan di mana�Bung Karno�saat peristiwa itu terjadi?

Sekilas tentang G30S

Vincent Bevins dalam bukunya�The Jakarta Method�(2020) menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965.

Pada malam itu, orang-orang yang tergabung dalam G30S berkumpul di Halim Perdanakusuma.

Mereka berada di bawah komando Letkol Untung dan Kolonel Abdul Latief.

Di Halim Perdanakusuma, G30S kemudian dibagi menjadi tujuh tim yang semuanya merupakan anggota militer.

Masing-masing tim diberi misi untuk menculik jenderal-jenderal yang diduga akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno.

G30S tidak sepenuhnya berhasil.

Dari tujuh jenderal yang menjadi target, satu orang berhasil lolos. Dia adalah Jenderal Abdul Haris Nasution.

Ketika G30S menyerbu kediamannya di Menteng, Nasution melompati dinding belakang rumahnya dan kabur ke rumah temannya, seorang Duta Besar Irak.

Pasukan G30S akhirnya menangkap dan menculik ajudannya, Kapten Pierre Tendean.

Penyerbuan itu juga menewaskan Ade Irma Suryani Nasution, putri sang jenderal yang masih berusia lima tahun.

Pada akhirnya, G30S hanya berhasil menculik enam jenderal, termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani, dan ajudan Nasution, Kapten Pierre Tendean.

Pahlawan Revolusi yang menjadi korban Peristiwa G30S pada 1965. ((Kemdikbud))

Para jenderal itu rencananya akan dihadapkan ke Soekarno.

Pada dini hari 1 Oktober, mereka dibawa ke Lapangan Udara Halim Perdanakusuma.

Setelah itu, sebagian pengikut G30S berangkat menduduki Lapangan Merdeka.

Salah satu dari mereka kemudian pergi ke Istana Merdeka untuk melapor kepada Soekarno bahwa mereka telah menangkap jenderal-jenderal yang diduga merencanakan kudeta.

Namun, Soekarno tidak ada di tempat.

Di mana Soekarno?

Salah satu ajudan Soekarno, Kolonel Bambang Widjanarko, menuturkan keberadaan�Bung Karno�pada saat G30S terjadi dalam bukunya�Sewindu Dekat Bung Karno�(1998).

“Tanggal 30 September 1965 sekitar pukul 23.00, seperti biasa setelah seluruh acara hari itu selesai, saya melaporkan urutan acara untuk keesokan harinya tanggal 1 Oktober 1965 dan mohon petunjuk BK (Bung Karno) apakah ada perubahan-perubahan yang ia kehendaki,” tulis Bambang.

Bambang menyebutkan, salah satu jadwal Bung Karno pada 1 Oktober 1965 yang masih diingatnya adalah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Leimena dan Pangad Jenderal Ahmad Yani.

Keesokan paginya, seusai mengikuti gladi resik peringatan HUT ABRI di Parkir Timur Senayan, Bambang tidak menemukan Soekarno setibanya di Istana Merdeka.

Belakangan, ia mendengar dari Kolonel Sumirat dan AKBP Mangil Martowidjojo (sesama pengawal Presiden) mengenai keberadaan Bung Karno.

“Kemarin malamnya (30 September) BK menginap di rumah Ibu Dewi (Ratna Sari Dewi), Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Kurang lebih pukul 06.00 BK dengan diantar Pak Mangil dan anggota Kawal Pribadi meninggalkan rumah Ibu Dewi menuju Istana Merdeka,” tulis Bambang.

Dalam perjalanan menuju Istana Merdeka, Soekarno berpindah haluan ke rumah istri keduanya, Haryati, yang berada di Slipi.

Perpindahan tujuan itu dilakukan karena Bung Karno mendapat kabar bahwa Istana Merdeka telah dikepung pasukan tak dikenal.

Mengenai keberadaan pasukan tak dikenal itu juga diungkapkan Bambang dalam bukunya.

Kisah Soekarno Berhenti Berpidato Pasca Tragedi G30S PKI (Istimewa)

Menurut Bambang, pada pagi hari 1 Oktober 1965, Istana Merdeka dikelilingi pasukan bersenjata lengkap dengan kain berwarna kuning melingkar di leher.

Dari Slipi, Bung Karno kemudian mendapatkan saran agar mengungsi ke Halim Perdanakusuma.

Terkait hal ini, Bambang mengaku tidak tahu saran itu berasal dari siapa.

“Saya tidak tahu benar siapa yang menyarankan itu dan bagaimana proses sebelum saran itu disampaikan,” tulis Bambang.

Sesampainya di Halim Perdanakusuma, Bung Karno diterima Panglima Angkatan Udara Omar Dhani, dan ditempatkan di rumah seorang perwira tinggi.

G30S selesai kurang dari sehari

Bevins dalam�The Jakarta Method�(2020) menyebutkan, Soekarno tiba di Halim Perdanakusuma sekitar pukul 09.00 pagi untuk menemui perwakilan yang hendak menemuinya di Istana Merdeka beberapa jam sebelumnya.

Namun ketika Soekarno tiba di Halim Perdanakusuma, para jenderal yang akan dihadapkan kepadanya telah tewas dan mayat mereka dibuang ke sumur dekat lapangan udara.

“Untuk alasan yang masih belum sepenuhnya dapat dipahami, keenam jenderal yang ditangkap�sudah tewas pada saat dia (Soekarno) tiba, tubuh mereka dibuaang di dasar sebuah sumur�terbengkalai di dekat Pangkalan Angkatan Udara Halim,” tulis Bevins.

“Masih belum jelas apakah Presiden�Soekarno, atau bahkan anggota Gerakan 30 September yang ditunjuk�untuk bertemu dengannya, tahu akan hal ini pada saat itu,” lanjutnya.

Pada hari yang sama, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N. Aidit Aidit, dan beberapa anggota Pemuda Rakyat juga tiba di Halim Perdanakusuma.�

Mereka berada di gedung yang berbeda, dan tidak dapat berkomunikasi langsung dengan para pemimpin G30S.

Saluran telepon di kota telah diputus, dan mereka tidak memiliki perangkat komunikasi seperti�walkie-talkie�atau radio.

Pada akhirnya, G30S selesai kurang dari sehari. Hanya dalam 12 jam,�gerakan itu ditumpas oleh Angkatan Darat yang dipimpin oleh Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayor Jenderal Soeharto.�

Peristiwa G30S menjadi pemicu pembantaian massal anggota dan simpatisan PKI di seluruh negeri karena dituding mendalangi penculikan para jenderal.

Di sisi lain, peristiwa ini juga mendorong lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966 yang menjadi legitimasi Soeharto naik menjadi presiden.

Baca juga !