Thu. Sep 29th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Iran Akan Mulai Pengayaan Uranium 60 Persen Usai Sabotase Israel

2 min read

Teheran –

Otoritas Iran mengumumkan akan melakukan pengayaan uranium hingga 60 persen, dua hari setelah ledakan di fasilitas nuklir Natanz yang diduga dilakukan Israel.

“Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam sebuah surat kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan bahwa Iran akan memulai pengayaan uranium hingga 60 persen,” demikian disampaikan kantor berita Iran, IRNA, tanpa menyebutkan kapan hal itu dilakukan.

Langkah seperti itu akan membawa Iran mendekati ambang batas 90 persen untuk penggunaan militer, dalam pelanggaran baru atas komitmen yang telah dibuatnya pada komunitas internasional.

Seperti dilansir AFP, Rabu (14/4/2021) berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, Iran diizinkan untuk melakukan pengayaan uranium hingga maksimum 3,67 persen. Namun sejak Januari lalu, Iran sudah melakukan pengayaan uranium hingga kemurnian 20 persen.

Sementara itu, media Press TV melaporkan pengayaan uranium akan dimulai pada Rabu (14/4).IRNA mengatakan Iran juga akan menambahkan 1.000 sentrifugal dengan kapasitas 50 persen lebih banyak ke mesin yang ada di Natanz, sebagai tambahan untuk menggantikan fasilitas yang rusak dalam serangan yang terjadi pada hari Minggu (11/4) lalu.

Iran menuduh musuh bebuyutannya, Israel, menyabotase pabrik pengayaan uranium Natanz dan berjanji akan melakukan “balas dendam” dan memperluas kegiatan nuklirnya.

“Sabotase terjadi di saluran kabel listrik yang mengarah ke mesin sentrifugasi yang menyebabkan kerusakan pada sistem ini,” kata juru bicara pemerintah Ali Rabiei.

“Ini bukan serangan dari luar dan lokasi sabotase sudah ditentukan dengan jelas,” tambahnya.

Pengumuman ini disampaikan Iran hanya beberapa jam setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, di mana Iran dan Rusia membahas front persatuan melawan Barat menjelang negosiasi nuklir yang sedang berlangsung di Wina, Austria.

Pembicaraan di ibu kota Austria itu difokuskan untuk membawa Amerika Serikat kembali ke perjanjian nuklir Iran setelah pada pada 2018 mantan Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian tersebut.

Pada tahun 2019, Iran melakukan pembalasan secara bertahap dengan membatalkan sebagian besar komitmen utamanya dalam kesepakatan nuklir.

Baca juga !