Sat. Dec 3rd, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Ketahanan Pangan di Luar Angkasa: Bertani Selada di Tanah Bulan

3 min read

Peneliti di University of Florida mengumumkan, mereka telah membudidayakan tanaman di tanah bulan dan menemukan apa yang disebut sebagai “mimpi eksplorasi.” Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan menunjukkan bahwa kehidupan dapat muncul dari regolith, yakni batuan yang ditemukan di permukaan bulan.

Para ilmuan mengatakan, temuan mereka yang telah diterbitkan dalam jurnal Communications Biology, dapat memiliki implikasi untuk misi eksplorasi bulan di masa depan. Rob Ferl, salah satu penulis penelitian tersebut mengatakan, riset tersebut dapat membantu para astronot melakukan misi di bulan dengan membudidayakan makanan mereka sendiri, termasuk mengurangi kebutuhan akan pasokan dari Bumi.

“Ketika manusia bergerak sebagai sebuah peradaban, tidak hanya untuk menjelajah selama beberapa hari, tetapi ketika pergi untuk tinggal di suatu tempat, kita selalu membawa pertanian bersama itu,” kata Ferl.

Selain memberikan ketahanan pangan dalam level tertentu di luar angkasa, penelitian ini memiliki potensi manfaat lain. Ini juga dapat membantu astronot memurnikan udara, menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan memproduksi air bersih.

Bagaimana budidaya tanaman di tanah bulan?

Para peneliti menanam benih selada batu (Arabidopsis) di tanah bulan yang dibawa pulang ke Bumi oleh astronot sekitar 50 tahun yang lalu. Tanah itu dikumpulkan dalam tiga misi Apollo yang berbeda, yakni Apollo 11 dan 12 pada tahun 1969 dan Apollo 17 pada tahun 1972.

Mereka membagi tanah bulan itu pada wadah 1 gram. Kemundian para ilmuan menambahkan air, cahaya dan nutrisi. Mereka juga menanam benih kelompok kedua pada abu vulkanik, yang komposisinya mirip dengan tanah bulan, sebagai kelompok kontrol.

Setelah kurang dari 48 jam, para ilmuwan melihat pertumbuhan pada kedua kelompok, tetapi mencatat beberapa hari kemudian bahwa tanaman di tanah bulan tampaknya berada di bawah tekanan. Tanaman pada regolith dari Bulan tampak kerdil dibandingkan dengan yang tumbuh pada abu vulkanik Bumi. Namun Ferl mengatakan, fakta bahwa tanaman itu bisa tumbuh membuat penemuan itu positif.

“Intinya adalah, sampai benar-benar riset selesai, tidak ada yang tahu apakah tanaman, terutama akar tanaman, akan dapat berinteraksi dengan tanah yang sangat tajam dan sangat antagonis yang merupakan sifat regolith bulan,” kata Ferl.

Kesulitan mendapatkan sampel

Eksperimen untuk menanam tumbuhan pada regolith cenderung mudah, tetapi memperoleh bahan yang diperlukan untuk memfasilitasi penelitian itu sulit. Para peneliti hanya memiliki sekitar 12 gram tanah bulan atau sekitar satu sendok makan. Sementara penelitian ini harus dilakukan beberapa kali, selama lebih dari satu dekade.

“Sampel-sampel ini adalah harta alami yang sangat berharga,” kata penulis lainnya, Anna-Lisa Paul. “Ketika kami bekerja dengan tanah bulan ini, kami mengubahnya. Begitu tanah bulan bersentuhan dengan udara dan air, mereka tidak lagi murni dan mereka kehilangan sebagian dari sifat arsip alamiahnya, yang sangat dilindungi sebelumnya.”

Manfaat untuk misi bulan di masa depan

Penemuan ini sangat signifikan. Bahkan kini lebih penting dari sebelumnya, dikaitkan dengan rencana NASA dan Badan Antariksa Eropa yang berharap dapatkembali mengirimkan astronot ke bulan melalui program Artemis.

Ada rencana untuk meluncurkan misi Artemis tanpa awak pertama pada 2022 ini, dan misi berawak pada akhir dekade ini. Negara-negara lain iuga berlomba dengan program penerbangan ke bulan di tahun-tahun mendatang, termasuk Jepang, India dan Cina.

Tetapi para ilmuwan masih belum tahu, bagaimana tanaman dari Bumi akan berinteraksi dengan lingkungan bulan yang nyata, bukan simulasi. Bulan sangat kering dibandingkan dengan Bumi, dan itu bisa mengubah kemampuan tanaman untuk tumbuh.

Baca juga !