Mon. Dec 5th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Masih Ingat Umar Patek, Terpidana Terorisme Bom Bali 1? Segera Bebas Bersyarat, PM Australia Kecewa

4 min read

Masih ingat Umar Patek, Terpidana Terorisme serangan Bom Bali 1?

Kabar terbaru, Umar Patek akan segera bebas dari penjara setelah menyelesaikan masa tahanannya.

Umar Patek kini dikabarkan sedang dalam proses Pembebasan Bersyarat (PB) setelah sebelumnya mendapatkan remisi berupa pengurangan masa tahanan lima bulan.

“Saat ini sedang proses Pembebasan Bersyarat,” kata Koordinator Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Rika Aprianti saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/8/2022).

Rika Aprianti mengatakan, Umar Patek memiliki hak untuk mendapatkan hak remisi sebagaimana narapidana lain di Indonesia.

Ia disebut telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif.

Di sisi lain, kata Rika, berdasarkan ketentuan yang berlaku, Umar Patek juga berhak untuk mengajukan permohonan Pembebasan Bersyarat.

Rika mengatakan, Umar Patek telah memenuhi sejumlah syarat antara lain, berkelakuan baik, mengikuti program pembinaan dengan baik, dan tidak pernah melanggar aturan.

“Juga salah satu kekhususan sudah menyatakan (setia kepada) NKRI, salah satu persyaratan khusus bagi warga binaan kasus terorisme,” ujar Rika.

Menurutnya, Ditjen Pas akan menyalahi undang-undang jika tidak memberikan hak Umar Patek sebagaimana narapidana. Padahal, ia telah memenuhi persyarat

Karena itu, jika nantinya Umar Patek mendapatkan Surat Keputusan Pembebasan Bersyarat (SKPB), maka ia dinilai telah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

“Jadi apabila itu pun disetujui dan ternyata SKPB-nya terbit berarti dinilai sudah memenuhi persyaratan administratif dan substantif,” jelas Rika.

Sebagai informasi, Pembebasan Bersyarat merupakan salah satu bagian dari program pembinaan Ditjen Pas. Pembinaan ini mengintegrasikan narapidana dengan kehidupan normal.

Meski demikian, seorang narapidana harus memenuhi sejumlah syarat untuk mendapatkan Pembebasan Bersyarat,

salah satunya adalah telah menjalani minimal dua per tiga masa tahanan, dengan ketentuan dua per tiga masa tahanan tersebut minimal 9 bulan.

Selain itu, Pembebasan Bersyarat bisa dicabut apabila narapidana tersebut mengulangi tindak pidana, menimbulkan keresahan di masyarakat,

tidak melaksanakan wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) tiga kali berturut-turut, dan tidak mengikuti program bimbingan yang ditetapkan Bapas.

Ketentuan inu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

PM Australia kecewa Umar Patek akan bebas

Melansir Kompas.com, pemberian remisi ini lantas mendapat sorotan dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.

Albanese mengaku kecewa terhadap Indonesia karena memberikan pengurangan pidana pada pelaku tragedi yang menewaskan 202 orang tersebut.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah mengatakan, pemberian remisi berada pada ranah hukum dalam Kementerian Hukum dan HAM RI.

“Ini masalah hukum, bukan kewenangan Kemenlu,” kata Teuku Faizasyah saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/8/2022).

Terkait rencana PM Australia mengirim perwakilan diplomatik untuk membahas remisi, pihaknya mengatakan bahwa tidak ada pertemuan tersebut di Kemenlu.

Tapi pria yang biasa disapa Faiza ini mengatakan, Kemenlu akan mengikuti informasi soal kedatangan perwakilan diplomatik Australia ke Indonesia.

“Kita ikuti hal ini dari media massa. (Sejauh ini) tidak ada pertemuan tersebut,” kata dia.

Umar Patek akan kembali bebas dari hukuman pidana pada Oktober 2022, menjelang peringatan 20 tahun bom Bali 1 setelah mendapat remisi.

Dengan demikian, total remisi yang didapat Umar menjadi hampir dua tahun.

Mendengar remisi tersebut, PM Australia kemudian kecewa.

Kekecewaan dia ungkap saat menerima informasi dari pihak berwenang Indonesia. Ia pun berencana mengambil langkah-langkah diplomatik.

Menurut dia, pengurangan remisi akan membawa penderitaan tambahan bagi keluarga korban.

“Ini akan menyebabkan penderitaan lebih lanjut bagi warga Australia yang merupakan keluarga korban bom Bali,” kata Albanese kepada Channel 9.

“Kami kehilangan 88 nyawa warga Australia dalam pengeboman itu,” ungkap dia, sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP).

Umar Patek berpesan kepada para teroris agar berhenti

Mengutip Kompas.com, Umar Patek alias Hisyam bin Alizein, berpesan kepada kelompok teroris yang masih beraksi di Indonesia, untuk menghentikan segala bentuk aksi teror.

Masih Ingat Umar Patek, Terpidana Terorisme Bom Bali 1? Segera Bebas Bersyarat, PM Australia Kecewa

Kata Umar Patek, tidak ada alasan bagi kelompok teroris melakukan aksinya di Indonesia, karena pemerintah menjamin keamanan dan kenyamanan beribadah semua warganya.

“Kelompok teroris harusnya menghentikan aksi terornya, karena pemerintah Indonesia tidak pernah melarang umat Islam untuk beribadah.

Begitu juga dengan umat agama lainnya,” kata Umar Patek, di Lapas Porong, usai menerima status WNI istrinya, Rabu (20/11/2019).

Perjalanan Kasus Terorisme Umar Patek

Indonesia pernah diguncang dengan beberapa bom bunuh diri dahsyat.

Salah satunya adalah bom Bali yang dampaknya cukup besar untuk Indonesia.

Ungkapan penyesalan salah satu pelaku bom bali pada Rabu (23/05/2018) dalam tayangan youtube Najwa Shihab.

Dia adalah Umar Patek, narapidana teroris Bom Bali I yang saat ini sedang menjalani hukuman 20 tahun penjara.

Dalam video berdurasi 15 menit itu, Umar mengungkapkan alasannya untuk bertaubat.

Ia mengungkapkan jika salah satu faktor pendukung terbesar Umar Patek untuk berubah adalah keluarga.

“Keluarga yang mengubah jalan hidup saya”, ungkap mantan teroris pelaku bom bali itu.

Umar mengungkapkan jika keluarga adalah orang pertama yang merangkul dan tidak membenci Umar Patek.

Meski sempat menentang jalan pemikirannya, keluarganya tidak pernah membenci dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Selain keluarga, Umar juga mengaku jika ia mendapatkan dukungan dari pihak Aparat Keamanan Negara.

Seperti polisi, TNI dan petugas penjaga Lapas yang sudah bersikap seperti teman dan saudara kepada Umar.

Dengan cara-cara pendekatan seperti itulah yang akhirnya membuat Umar luluh dan memutuskan untuk kembali mengikuti upacara peringatan HUT RI pada tahun 2014.

Usai mengikuti upacara, Umar menyampaikan keinginannya untuk menjadi petugas pengibar bendera.

Sampai akhirnya, pada tahun 2015,2016 dan 2017 Umar dipercaya untuk menjadi pengibar bendera selama tiga kali berturut-turut.

Ketika Najwa menyinggung soal aksi teror bom yang belakangan ini terjadi, Umar pun turut memberikan tanggapannya.

Umar bahkan mengutuk aksi teror bom yang belakangan ini terjadi sangatlah biadab dan tidak bisa diterima dalam ajaran agama Islam.

Apalagi aksi teror bom yang belakangan ini terjadi melibatkan anak-anak dan para wanita.

Umar juga menjelaskan perbedaan pemahaman antara pelaku teror bom saat ini dengan pemahamannya dulu.

“Karena anak-anak yang sekarang ini, yang melakukan aksi-aksi teror belakangan, saya perhatikan mereka memiliki pemahaman takfiri.

Yang mana pemahaman itu tidak ada pada kami sebelumnya.

Pemahaman Takfiri ini pemahaman yang diusung oleh khawarij yang saat ini dibawa oleh ISIS.

Di mana mereka mengkafirkan atau memurtadkan siapapun yang tidak sepaham ataupun siapapun yang tidak mau masuk dalam kelompok mereka.

Ketika vonis kafir dijatuhkan itulah maka siapapun boleh dibunuh”, kata Umar.

Ternyata, hal itu tidak sepaham dengan apa yang dianut oleh para teroris dulu.

Tak hanya ungkapan belasungkawa, dalam video wawancara via telepon itu Umar juga mengungkapkan permohonan maafnya kepada seluruh keluarga korban Bom Bali I.

Baca juga !