Wed. Nov 30th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Mengapa Sinyal 3G di Indonesia Mau Dimatikan?

4 min read

Pada Desember 2021 lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengumumkan tengah melakukan kajian mendalam terkait rencana penghapusan sinyal 3G di seluruh Indonesia.

Tak berselang lama, tepatnya pada Januari 2022, Telkomsel juga mengumumkan akan melakukan migrasi seluruh layanan jaringan 3G ke jaringan 4G LTE, mulai tahun 2022 ini.

Dengan migrasi ini, Telkomsel pada akhirnya bakal mematikan sinyal 3G miliknya.

Padahal di Indonesia sendiri, jaringan 3G masih menjadi andalan bagi sebagian orang untuk mengakses internet di ponsel. Lantas, mengapa sinyal 3G di Indonesia mau dimatikan?

Juru bicara (Jubir) Kominfo Dedy Permadi serta dua pengamat telekomunikasi, yaitu Moch S. Hendrowijono dan Ian Yosef M. Edward pun buka-bukaan soal alasan di balik rencana penghapusan sinyal 3G di Indonesia tersebut.

Teknologi 3G sudah lawas

Menurut Dedy, alasan utama sinyal 3G di Indonesia harus dimatikan adalah agar operator seluler dapat memberikan layanan broadband seluler dan digital yang lebih baik ke pelanggan, yaitu menggunakan jaringan 4G LTE, bukan lagi teknologi lawas seperti 3G.

“Sebab jaringan 3G masih memiliki kendala berupa kecepatan yang kurang maksimal, ketidakstabilan sinyal, dan kapasitas layanan yang kurang memadai,” kata Dedy melalui pesan singkat kepada KompasTekno.

Bahkan pengamat telekomunikasi Moch S. Hendrowijono mengatakan bahwa penghapusan jaringan 3G di Indonesia seharusnya sudah dilakukan lebih awal, yaitu semenjak beberapa tahun lalu.

“Alasan penghapusan 3G, teknologinya mentok di kemampuan/kapasitas rendah, hanya sekitaran 2 Mbps. Selain itu, 3G juga sudah jadi bagian dari evolusi akses semua operator dunia,” kata kata pria yang akrab disapa Hendro itu kepada KompasTekno.

Jadi, bukan hal baru bila ada rencana penghapusan sinyal 3G ini. Hendro mencontohkan, negara tetangga seperti Singapura sudah mematikan jaringan lawas 2G semenjak tiga tahun lalu, kemudian disusul dengan penghapusan jaringan 3G.

Memang, dari segi kecepatan, secara teknis, jaringan 3G hanya memiliki kecepatan rata-rata 2 Mbps dan kecepatan maksimum hingga 14 Mbps saja.

Berbeda dengan jaringan 4G yang secara teknis mampu menghasilkan kecepatan unduh lebih cepat, yakni antara 10 Mbps hingga 1 Gbps.

Selain itu, jaringan seluler generasi keempat ini turut menawarkan latensi yang lebih baik ketimbang 3G. Hal ini ditandai dengan sedikitnya proses buffering, peningkatan pada kualitas suara, serta kualitas streaming dan kecepatan unduh yang lebih cepat ketika mengakses internet dengan sinyal 4G.

Teknologi 4G juga dikenal sebagai jaringan seluler berbasis IP pertama di dunia, yang mampu mengakomodasi Quality of Service (QoS) serta akses broadband nirkabel pada Multimedia Messaging Service (MMS), percakapan video, TV seluler, konten HDTV, hingga Penyiaran Video Digital (DVB).

3G membebani jaringan

Selain teknologinya lawas, jaringan 3G juga disebut membebani jaringan. Setidaknya begitulah menurut Hendro.

“Layanan 3G memakan bandwith yang lebih besar untuk besaran kapasitas yang sama dengan 4G, sehingga secara teknis dia membebani jaringan,” kata Hendro.

Selama ini, jaringan 3G dan 4G di Indonesia memang menempati spektrum frekuensi yang sama, yaitu 900 MHz, 1.800 MHz, dan 2.100 GHz. Masing-masing operator memiliki lebar pita (bandwidth) yang berbeda-beda pada frekuensi tersebut untuk menggelar layanan 3G sekaligus 4G.

Makanya, menurut Hendro, operator seluler akan lebih untung, efisien, dan optimal bila menggunakan bandwidth yang semula untuk layanan 3G, dialihkan untuk 4G.

“(Bila itu terjadi) layanan 4G secara teoritis akan bisa lebih cepat bagi pelanggan 4G,” kata Hendro.

Alokasi frekuensi untuk 4G

Dedy juga mengungkapkan, saat ini, kebutuhan jaringan broadband di Indonesia sudah sangat tinggi. Sehingga memerlukan pengembangan teknologi jaringan generasi selanjutnya, seperti 4G maupun 5G yang lebih cepat.

Untuk mengakomodasi tingginya kebutuhan jaringan broadband sekaligus memberikan layanan internet seluler yang lebih baik, maka layanan internet seluler yang menggunakan teknologi 3G di Indonesia agaknya perlu dimatikan.

“Penghentian layanan seluler berbasis teknologi 3G dapat mendorong operator seluler memanfaatkan alokasi frekuensi 3G, untuk memaksimalkan kapasitas bandwidth yang ada (untuk layanan 4G),” kata Dedy.

Dengan kata lain, alokasi frekuensi yang selama ini digunakan untuk menggelar 3G sekaligus 4G, akan sepenuhnya digunakan untuk layanan 4G saja.

Dengan begitu, kata Dedy, masyarakat mendapatkan layanan teknologi 4G yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya yang tinggi saat ini.

Jumlah pelanggan 3G menurun

Menurut Dedy, hal lain yang menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengaji penghapusan sinyal 3G di Indonesia adalah jumlah pelanggan 3G yang disebut semakin hari semakin menurun.

Meski begitu, Dedy tidak memberikan data soal jumlah pelanggan seluler Indonesia yang masih setiap menggunakan kartu SIM 3G alias belum upgrade ke kartu SIM 4G di Indonesia. Pelanggan kategori ini juga sering disebut sebagai pelanggan 3G-only.

KompasTekno pun mencoba meminta data pelanggan 3G-only di Indonesia kepada masing-masing operator seluler, seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (perusahaan hasil merger Indosat Ooredoo-Tri), dan XL Axiata. Namun, hasilnya nihil.

KompasTekno tidak menanyakan soal jumlah pelanggan kepada Smartfren, karena operator ini sudah mematikan layanan 3G miliknya sejak 2017 lalu.

Meski tak ada data yang menyebutkan secara spesifik berapa jumlahnya, bukan berarti pelanggan 3G-only sudah tidak ada lagi di Indonesia.

Pasalnya, menurut riset OpenSignal yang dipublikasi pada Juni 2021 lalu, sejumlah masyarakat masih mengandalkan jaringan 3G dan belum pernah terhubung ke jaringan 4G.

Tanpa menyebutkan jumlahnya, OpenSignal mengungkapkan ada tiga alasan utama yang menyababkan sebagian masyarakat Indonesia masih bergantung pada 3G.

Pertama, sebanyak 67,5 persen pengguna 3G-only tidak punya langganan 4G alias belum upgrade dari kartu SIM 3G ke 4G. Padahal ponsel mereka sudah mendukung konektivitas 4G.

Alasan pengguna belum upgrade dari 3G ke 4G kemungkinan karena mereka mungkin tidak menyadari manfaat 4G atau mungkin telah menonaktifkan koneksi 4G di ponsel mereka.

Kedua, sebanyak 16,8 persen pengguna 3G-only tidak punya perangkat yang mendukung jaringan 4G. Faktornya antara lain karena penghasilan yang rendah, keterbatasan keterampilan digital, dan kurangnya kesadaran terkait perbedaan perangkat 3G dan 4G.

Ketiga, sebanyak 15,8 persen pengguna 3G-only belum terjangkau oleh sinyal 4G.