Wed. Dec 8th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

PD Bertanya-tanya Setelah Serangan Hasto ke SBY Seolah Tak Ada Habisnya

3 min read

Jakarta – Serangan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto untuk pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY seolah tiada habisnya. Partai Demokrat pun sampai bertanya-tanya.
Dalam catatan detikcom, Kamis (28/10/2021), serangan pertama Hasto Kristiyanto dilontarkan saat membuka webinar bertajuk ‘Penganggaran Desa Wisata Perancangan Kebijakan Penganggaran Desa Wisata’, yang digelar di kantor DPP PDIP, Kamis (21/10/2021).

“Berbagai apresiasi sudah diberikan kepada Presiden Jokowi, dan kita sebagai partai pengusung pun ikut bangga bagaimana kepemimpinan Pak Jokowi yang turun ke bawah, melihat akar persoalan pokok dari COVID-19 dan kemudian mencari solusi menyeluruh dimulai dari refocusing anggaran, kebijakan yang menyeimbangkan antara pembatasan sosial dan pertumbuhan ekonomi serta terdepan dalam pengadaan vaksin,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis.

Jokowi, kata Hasto, punya kelebihan dibandingkan Presiden RI sebelumnya. Dia menyebut Presiden RI 10 tahun lalu terlalu banyak mengadakan rapat dan tidak mengambil keputusan.

“Pak Jokowi punya kelebihan dibanding pemimpin yang lain. Beliau adalah sosok yang turun ke bawah, yang terus memberikan direction, mengadakan ratas (rapat kabinet terbatas) dan kemudian diambil keputusan di rapat kabinet terbatas. Berbeda dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya, terlalu banyak rapat tidak mengambil keputusan,” ujar Hasto.

Selanjutnya, Hasto menyebut secara kualitatif, ada kecurangan masif saat pemilu di era SBY. Dia mengatakan ada manipulasi pada data daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2009. Hasto juga menyinggung soal bantuan sosial atau bansos era SBY.

“Kemudian aspek kualitatifnya, bagaimana penyelenggaraan pemilu. Pada 2009 itu kan kecurangannya masif, dan ada tokoh-tokoh KPU yang direkrut masuk ke parpol hanya untuk memberikan dukungan elektoral bagi partai penguasa. Ada manipulasi DPT dan sebagainya,” kata Hasto.

Seringan ketiga Hasto yakni gaya komunikasi dengan mengarang lagu. Hasto menyampaikan hal ini saat membahas topik pengganti juru bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Ada-tidaknya jubir presiden merupakan bagian dari ranah kebijakan Presiden tentang perlu-tidaknya posisi tersebut,” kata Hasto Kristiyanto.

Jika Jokowi nantinya menentukan tetap ada jubir presiden, PDIP berharap sosok yang mengisi jabatan jubir presiden paham akan suasana kebatinan Jokowi. Jadi jubir presiden itu dapat menyampaikan keputusan dan kebijakan Jokowi kepada publik.

Komunikasi politik seorang presiden, menurut Hasto, penting dan diperlukan. Meski demikian, komunikasi politik itu bagi Hasto tak dapat dijalankan hanya dengan mengarang lagu hingga menulis buku tebal.

 

“Komunikasi politik presiden tidak bisa dilakukan dengan mengarang lagu atau menulis buku tebal, namun harus dilakukan proporsional, efektif, dan menyentuh hal-hal yang bersifat strategis,” imbuhnya.

Demokrat menilai, jika pernyataan Hasto ditujukan untuk Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, Hasto insecure dan gagal move on.

“Terkait pernyataan Hasto, kami berbaik sangka bahwa itu bukanlah insinuasi terhadap Pak SBY, tidak pas dan tidak relevan. Adalah benar bahwa Pak SBY memiliki karya tulis berupa buku dan karya seni, tak hanya lagu saat ini juga berupa lukisan. Ini bakat luar biasa sekaligus tanda keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang optimal dari Pak SBY,” ujarnya.

Demokrat pun bertanya-tanya mengapa Hasto menyerang SBY bertubi-tubi. Kepala Bakomstra Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra mempertanyakan apa sebetulnya salah SBY dan Partai Demokrat ke PDIP.

“Apa salah Demokrat dan Bapak SBY sampai Demokrat dan Bapak SBY difitnah terus? Apa karena mungkin banyak rakyat yang kangen era Bapak SBY dan Demokrat? Soalnya, saat SBY dan Demokrat memimpin Indonesia, rakyat bisa hidup enak, tidak susah seperti sekarang,” kata Herzaky.

Herzaky menilai PDIP hendak menunjukkan bahwa rakyat kangen terhadap era SBY dimana kemiskinan turun drastis. Dia pun menjabarkan, beda dengan Pemerintahan Jokowi, saat 10 tahun Pemerintahan SBY kemiskinan turun berhasil berkurang 8,42 juta jiwa.

Lebih lanjut, Herzaky menyebut saat era SBY pengangguran berkurang secara signifikan sebanyak 3,01 juta orang. Lagi-lagi, Herzaky membandingkan dengan Pemerintahan Jokowi yang hanya mampu mengurangi 140 ribu pengangguran.

“Begitu pula dengan pengangguran. Selama pemerintahan SBY, pengangguran berkurang sebanyak 3,01 juta orang. Atau, 301 ribu orang per tahun. Jauh di atas era Jokowi, yang hanya mampu mengurangi pengangguran 140 ribu selama lima tahun, atau 28 ribu saja per tahun. Apalagi pasca pandemi covid-19 ini. Jumlah pengangguran dan kemiskinan melonjak drastis. Wajar saja kalau banyak rakyat kangen era Bapak SBY dan Demokrat,” ujarnya.

Herzaky pun mengaku Partai Demokrat semakin heran dengan sikap PDIP lantaran menyinggung kecurangan Pemilu hingga bansos. Dia menyinggung justru PDIP lah yang menyembunyikan Harun Masiku terkait Pemilu dan kadernya Juliari Batubara yang tertangkap basah kasus bansos Corona.

“Saran kami, mari kita isi ruang publik, dengan narasi-narasi positif berdasarkan data dan fakta, untuk ikut mengedukasi dan memberikan teladan untuk masyarakat. Jangan malah ikut-ikut menyebarkan tuduhan tak berdasar, apalagi kabar bohong dan fitnah,” lanjutnya.

Apa respons Hasto setelah Demokrat bertanya-tanya? “Pertanyaan tersebut mudah dijawab. Hanya perlu alat sederhana: cermin,” kata Hasto.

 

Baca juga !