Thu. Oct 6th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Pertamina Bantah Kelangkaan Pertalite dan Solar: Konsumsi Meningkat

3 min read

 Jakarta -Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat Eko Kristiawan memastikan tidak ada kelangkaan BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar. “Tidak ada kelangkaan, kalau langka berarti tidak ada barangnya sama sekali,” ujar dia saat dihubungi pada Minggu, 14 Agustus 2022.

Namun Eko menjelaskan beberapa waktu ini telah terjadi peningkatan konsumsi pertalite dan solar. Selain itu, sempat terjadi keterlambatan pengiriman, tapi saat ini telah berangsur normal.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan serta yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan, juga mengimbau agar penggunaan BBM harus sesuai dengan peruntukkannya,” kata dia.

Meski terjadi peningkatan konsumsi pertalite dan solar, sejauh ini Pertamina tidak melakukan pembatasan atau pengendalian penyaluran BBM jenis tersebut. “Stok juga dalam keadaan aman,” tutur Eko.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Subholding Commercial & Trading PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting saat dihubungi terpisah. Menurut dia stok BBM subdisi jenis pertalite dan solar secara nasional masih aman. “Kalau bicara stok nasional di Pertamina sebenarnya posisinya aman,” ujar dia pada Minggu, 14 Agustus 2022.

Dia mengaku sudah mengecek Minggu pagi bahwa secara nasional stok pertalite ada di level 17 hari ke depan, sementara stok solar 19 hari ke depan. “Dan terus diproduksi. Artinya stok secara nasional di Pertamina mencukupi,” tutur Irto. Namun Irto tidak menjelaskan berapa banyak stok yang tersedia saat ini.

Sebelumnya, masyarakat dikabarkan mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak subsidi akhir-akhir ini, seperti pertalite dan solar. Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute Achmad Nur Hidayat mengungkapkan penyebabnya adalah kebijakan pembatasan penyaluran BBM subsidi.

Achmad menjelaskan PT Pertamina (Persero) telah melaporkan realisasi penyaluran BBM jenis Pertalite per 31 Juli 2022 sudah mencapai 16,8 juta kiloliter dari kuota yang ditetapkan tahun ini sebesar 23,05 juta kiloliter. Dengan begitu, sisa kuota penyaluran katanya sudah sangat menipis.

“Artinya hanya tersisa 6,25 juta kiloliter yang hanya mencukupi penyaluran bulan Agustus dan September 2022 saja. Bahkan bisa lebih cepat lagi bila konsumsi dalam negeri tidak dikendalikan,” kata dia melalui keterangan tertulis, Jumat, 12 Agustus 2022.

Sementara itu, untuk BBM subsidi berjenis solar telah disalurkan sebanyak 9,9 juta kiloliter dari total kuota yang telah ditetapkan tahun ini 14,9 juta kiloliter. Artinya, sisa penyaluran BBM solar juga tinggal 5 kiloliter. Oleh sebab itu, Achmad memperkirakan stok BBM kedua jenis itu akan sulit dicari pada September 2022.

“Akibatnya, bulan September tidak akan ada lagi pertalite dan solar di pasar dan hal tersebut merupakan kiamat kecil bagi masyarakat kecil ke bawah. Ini sebabkan masyarakat akan dipaksa beli BBM non subsidi yang lebih mahal,” ujar Achmad.

Dengan permasalahan ini, Achmad memperkirakan ada efek rambatan terhadap perekonomian masyarakat, khususnya yang selama ini menggantungkan biaya transportasinya pada BBM jenis subsidi. Efek ekonominya adalah, harga-harga akan ikut terkerek mahal.

Efek domino ini kata dia terjadi karena biasanya masyakarat dan mobil transportasi untuk mengeluarkan biaya bahan pokok membayar sekitar Rp 7.650 per liter karena menggunakan pertalite, tapi kini menjadi Rp 12.500 karena menggunakan pertamax atau biaya BBM untuk transportasinya naik 64 persen saat pertalite tidak ada di pasar.

“Kenaikan 64 persen tersebut sangat memberatkan masyarakat dan dampak berikutnya harga-harga bahan pokok akan naik karena naiknya ongkos transportasi. Tercatat pada pertengahan Agustus 2022 ini, publik sudah merasakan kelangkaan pertalite di beberapa SPBU,” ujar Achmad.

Baca juga !

2 min read