Mon. Nov 28th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Polisi Bangladesh Tangkap 16 Orang saat Gerebek Kamp Rohingya di Dhaka

2 min read

Cox’s Bazar – Bangladesh menangkap sedikitnya 16 orang pengungsi Rohingya dalam rangkaian penggerebekan di kamp-kamp di Dhaka. Penggerebekan itu dilakukan setelah pempimpin komunitas Rohingya Mohib Ullah tewas dibunuh.
Dilansir AFP, Minggu (10/10/2021) Mohib Ullah ditembak mati 10 hari yang lalu. Dia ditembak oleh orang tak dikenal di kantornya di Kutupalong, pemukiman pengungsi terbesar di dunia di tenggara Bangladesh.

Keluarganya dan sesama pemimpin masyarakat menyalahkan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). ARSYA adalah kelompok militan di balik serangkaian serangan terhadap pos keamanan Myanmar.

Keluarga mengatakan popularitas Mohib Ullah yang semakin meningkat telah membuat marah kelompok itu. ARSA pun membantah terlibat dalam pembunuhan itu.

Pria berusia 48 tahun itu telah menjadi salah satu suara moderat yang paling dihormati yang mengadvokasi pengungsi Rohingya, setelah hampir 800.000 orang melarikan diri dari Myanmar ke distrik Cox’s Bazar Bangladesh menyusul tindakan keras militer di desa mereka pada 2017.

“Kami telah menangkap 16 orang dalam tiga hari terakhir sebagai bagian dari upaya khusus yang kami luncurkan setelah pembunuhan Mohib Ullah,” kata pejabat polisi yang bertanggung jawab atas penggerebekan tersebut, Naimul Huq.

Huq menambahkan bahwa mereka yang ditangkap tidak “terlibat dalam pembunuhan Mohib Ullah” dan ARSA tidak beroperasi di kamp-kamp tersebut.

Penangkapan tersebut menandakan tindakan keras penegakan hukum yang lebih luas di kamp-kamp itu. Hal itu terjadi seminggu setelah lima orang lainnya ditangkap sehubungan dengan pembunuhan Mohib Ullah dan media lokal melaporkan bahwa salah satu dari pria itu telah mengaku.

Pemimpin komunitas Rohingya dan aktivis hak telah berulang kali mengatakan anggota kelompok militan aktif di pemukiman pengungsi. Sementara itu, keluarga Mohib Ullah mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa mereka takut meninggalkan rumah mereka.

“ARSA telah menciptakan teror di kamp-kamp itu,” kata seorang pemimpin senior kelompok hak asasi pemimpin yang terbunuh itu kepada AFP, meminta untuk tidak disebutkan namanya.

“Sejak pembunuhan Mohib Ullah, saya tidak bisa pulang ke rumah. Saya bersembunyi sejak pembunuhan itu. Anggota ARSA mengikuti kami dan mengancam kami. Saya tidak berdaya,” jelasnya.

Pemimpin komunitas lainnya mengatakan: “Militan ARSA mencoba menculik salah satu kerabat saya dan putra salah satu anggota kami. Sekarang kami semua takut dengan hidup kami. Mereka ingin membunuh saya,” katanya.

Baca juga !