Tue. Nov 29th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Presiden China Xi Jinping Dirumorkan Dikudeta dan Jadi Tahanan Rumah, PLA Disebut Mulai Bergerak

4 min read

Presiden China, Xi Jinping dikabarkan menjadi tahanan rumah usai disebut telah dikudeta.

Hal tersebut pun membuat gempar jagat dunia maya, terumata media sosial Twitter.

Nama Xi Jinping pun masuk menjadi trending topik Twitter.

Menurut sejumlah postingan di media sosial negara Tirai Bambu itu, Xi Jinping telah dicopot dari posisinya sebagai Kepala Tentara Pembebasan China (PLA).

Dikutip dari Newsweek, Minggu 25 September 2022, Xi dan frasa #ChinaCoup menjadi buah bibir di media sosial setelah puluhan ribu pengguna menyebarkan desas-desus yang belum dikonfirmasi kebenarannya mengenai presiden Xi Jinping yang ditahan dan digulingkan oleh Tentara Pembebasan Rakyat China.

Spekulasi ini semakin menguat setelah tidak ada penerbangan komersial yang terbang di atas ibu kota Beijing pada hari Sabtu 24 September 2022, dengan laporan yang belum diverifikasi mengklaim semua kereta api dan bus juga dibatalkan dari Beijing.

Sementara itu, situs web Bandara Ibukota Beijing memang menunjukkan bahwa beberapa penerbangan keluar dari ibu kota China telah dibatalkan, tapi banyak juga yang masih terjadwal atau sudah mendarat.

“Rumor baru yang harus diperiksa, Apakah Xi Jinping di bawah tahanan rumah di Beijing? Ketika Xi berada di Samarkand baru-baru ini, para pemimpin dari Partai Komunis China seharusnya telah mencopot Xi dari penanggung jawab Angkatan Darat Partai. Kemudian tahanan rumah menyusul,” tweet Subramanian Swamy, politisi India.

Mantan pejabat Departemen Pertahanan untuk China, Taiwan dan Mongolia, Drew Thompson menggambarkan desas-desus itu sebagai “kebohongan belaka”

“Rumor bahwa Xi Jinping telah ditangkap memiliki alasan karena ini adalah momen politik yang sensitif di China,” tulis Thompson.

“Diskusi terbuka tentang oposisi terhadap Xi membuat desas-desus itu masuk akal. Meskipun kurangnya bukti bahwa Xi menghadapi oposisi internal, tetapi spekulasi tetap ada,” imbuhnya.

Presiden China Xi Jinping masuk ke dalam trending topik Twitter terkait laporan yang tidak berdasar bahwa dia berada di bawah tahanan rumah dan bahwa China berada di tengah kudeta militer. (AFP)

Di samping itu, Frida Ghitis, mantan koresponden CNN, juga menepis “rumor liar” yang keluar dari China.

“Media sosial ramai dengan klaim bahwa telah terjadi kudeta di China, bahwa Xi Jinping berada di bawah tahanan rumah. Tetapi tidak ada bukti bahwa ini benar,” ujar Ghitis.

Baru-baru ini, Presiden Xi menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, di mana ia juga mengadakan pembicaraan dengan presiden Rusia Vladimir Putin.

Kendaraan Perang PLA Mulai Bergerak

Lebih  lanjut, beberapa mengklaim adanya kudeta militer, dan bahwa kendaraan perang PLA telah mulai bergerak ke Ibu Kota Beijing.

“Kendaraan militer #PLA mulai bergerak ke #Beijing pada 22 September. Dimulai dari Huanlai di dekat Beijing dan berakhir Zhangjiakou, Provinsi Hebei, seluruh arak-arakan sepanjang 80km. Sementara itu, rumor mengatakan bahwa #XiJinping ditahan setelah senior #PKC memecatya sebagai kepala PLA,” cuit Jennifer Zheng dikutip dari NDTV.

Penulis Gordon G Chang juga mencuitkan mengenai kemungkinan terjadinya kudeta terhadap Xi Jinping, disertai sebuah video.

“Video kendaraan militer yang pindah ke Beijing ini muncul segera setelah 59 persen penerbangan di negara itu dilarang terbang, dan pemenjaraan pejabat senior,” cuitnya.

“Ada banyak asap, yang berarti ada api di suatu tempat di dalam Partai komunis China. China Tidak stabil,” tambahnya.

Selain itu, juga banyak laporan yang tak bisa diverifikasi mengenai tidak adanya pesawat komersial yang terbang di atas Beijing.

Namun, sejumlah pakar China mengklaim belum ada tanda-tanda terjadinya kudeta di luar komentar di media sosial.

Aadil Brar, seorang ahli di China mengatakan bahwa Xi Jinping bisa dikarantina setelah kembali dari Uzbekistan, yang akan menjelaskan ketidakhadirannya dari urusan publik.

Xi Jinping memang baru kembali setelah menghadiri Pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Uzbekistan.

Spekulasi mengenai kudeta yang dialami Xi Jinping muncul setelah China memberikan hukuman mati kepada dua mantan menteri, pekan ini.

Kedua mantan menteri, dan empat pejabat yang dipenjara seumur hidup dilaporkan bagian dari faksi politik.

Serentetan hukuman profil tinggi itu adalah bagian dari kampanye anti-korupsi China menjelang pertemuan politik bulan depan, di mana Xi Jinping diperkirakan akan mengamankan masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

China Membatalkan Sejumlah Penerbangan

Mengutip dari Zeenews,China telah memulai pembatalan massal penerbangan, berdasarkan laporan dari media pemerintah.

Namun, alasan pembatalan penerbangan tidak jelas. Berdasarkan laporan The Epoch Times, Flight Master menyebutkan 9.583 penerbangan dibatalkan secara nasional pada 21 September.

Penerbangan yang dibatalkan tersebut merupakan 59,66 persen dari total penerbangan terjadwal pada hari itu. Perlu dicatat bahwa Flight Master berfungsi sebagai sumber informasi tentang penerbangan, tiket, dan layanan perjalanan di negara ini.

Selain itu, laporan tersebut mengatakan bahwa beberapa hub transportasi udara di China memiliki laporan pembatalan lebih dari 50 persen.

Laporan The Epoch Times mengatakan Bandara Internasional Ibu Kota Beijing membatalkan 622 penerbangan, menghasilkan tingkat pembatalan 60 persen. Selain itu, 652 penerbangan dibatalkan di Bandara Internasional Pudong Shanghai, dengan tingkat pembatalan 54 persen.

Demikian pula, 542 penerbangan di Bandara Baoan Shenzhen dibatalkan, terhitung 51 persen dari total penerbangan.

Tiga bandara China, yaitu Guiyang Longdongbao, Lhasa Gongga, dan Chengdu Tianfu, memiliki tingkat pembatalan yang tinggi di provinsi-provinsi Barat.

Guiyang Longdongbao memiliki 539 penerbangan dibatalkan, dengan tingkat pembatalan 99 persen. Sedangkan di Lhasa Gongga 157 penerbangan dibatalkan, dengan tingkat pembatalan 98 persen. Demikian pula, 752 penerbangan dibatalkan di bandara Chengdu Tianfu, dengan tingkat pembatalan 87 persen.

Pembatalan serupa juga terlihat di bandara lain di negara ini.

Di situs badan penerbangan top China, tidak ada penjelasan resmi.

Namun, Netease, portal berita utama Tiongkok, kemarin melaporkan bahwa pembatalan tersebut terutama disebabkan oleh wabah COVID-19 baru-baru ini di beberapa provinsi Tiongkok.

Baca juga !