Sun. Nov 27th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Sekolah di Afghanistan Kembali Dibuka, Nasib Murid Perempuan Bagaimana?

2 min read

Kabul –

Taliban kembali membuka sekolah tingkat menengah di Afghanistan. Namun Taliban tidak menyertakan murid perempuan dalam pembukaan tersebut.

“Seluruh guru pria dan murid-murid laki-laki harus kembali ke sekolah menengah,” demikian isi pengumuman yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan baru Taliban terkait pembukaan sekolah Sabtu (18/9), seperti dilansir BBC, Minggu (19/9/2021).

Diketahui murid-murid usia 13 hingga 18 tahun biasanya mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah. Kebanyakan sekolah menerapkan sistem segregasi.

Para pejabat Taliban berjanji bahwa pemerintahan baru mereka akan mengizinkan perempuan untuk belajar dan bekerja sesuai dengan interpretasi kelompok tersebut terhadap hukum agama Islam.

Meski begitu, beberapa waktu lalu pekerja wanita diberitahu untuk tinggal di rumah sampai situasi keamanan membaik. Ada pula kabar yang menyebut pejuang Taliban telah memukuli wanita yang memprotes pemerintahan sementara Taliban yang semua anggotanya adalah laki-laki.

Respons Taliban Soal Pembukaan Sekolah untuk Murid Perempuan

Mengutip kantor berita Bakhtar Afghanistan, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid angkat suara soal nasib murid perempuan di negara tersebut. Ia mengatakan sekolah tingkat menengah untuk perempuan akan segera dibuka.

Mujahid menyebut saat ini para pejabat sedang membahas ‘prosedur’ terkait dan akan segera merinci pembagian guru.

Kepada BBC, Mujahid juga menjelaskan bahwa pihaknya juga sedang membahas terkait transportasi bagi murid perempuan.

Melihat sikap Taliban, para murid perempuan dan orang tua mereka tidak berharap banyak pada janji Taliban soal masa depan mereka. Menurut mereka janji itu berpeluang sangat kecil.

“Saya sangat khawatir dengan masa depan saya” kata seorang murid perempuan di Afghanistan, yang berharap menjadi pengacara.

“Semuanya terlihat sangat gelap. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?” imbuhnya.

Sang ayah pun turut mengeluhkan kondisi tersebut sembari berkata, “Ibuku dulu buta huruf, dan ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya idiot. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku.”

Awal pekan ini, Taliban mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk belajar di universitas, tetapi dengan syarat harus terpisah dengan laki-laki dan harus mengikuti aturan berpakaian baru. Terkait pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin, beberapa pihak menyarankan aturan tersebut dicabut. Hal ini lantaran universitas-universitas tidak memiliki sumber daya untuk menyediakan kelas terpisah.

Sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001, kemajuan besar telah dibuat dalam meningkatkan pendidikan dan tingkat melek huruf di Afghanistan – terutama untuk anak perempuan. Jumlah anak perempuan di sekolah dasar meningkat dari hampir nol menjadi 2,5 juta, sementara tingkat melek huruf perempuan hampir dua kali lipat dalam satu dekade menjadi 30%.

“Ini adalah kemunduran dalam pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan Afghanistan,” kata Nororya Nizhat, mantan juru bicara Kementerian Pendidikan.

“Ini mengingatkan semua orang tentang apa yang dilakukan Taliban di tahun 90-an. Kami berakhir dengan generasi perempuan yang buta huruf dan tidak berpendidikan.” imbuhnya.

Baca juga !