Fri. Dec 9th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Strategi Negara-negara Eropa saat Rusia Hentikan Pasokan Gas

4 min read

BRUSSEL –¬†Raksasa energi Rusia Gazprom, mengatakan kepada perusahaan gas Polandia PGNiG, mereka akan menghentikan pasokan gas di sepanjang pipa Yamal mulai pagi ini (27/4/2022).

Keputusan ini telah memperbarui kekhawatiran mengenai pasokan gas, karena Rusia dan pihak Barat masih berselisih mengenai permintaan Putin untuk melakukan pembayaran gas Rusia dalam Rubel.

Dilansir dari Reuters.com, Polandia yang memiliki kontrak dengan gas Rusia dan akan berakhir pada akhir tahun ini, telah berulang kali mengatakan mereka tidak akan mematuhi skema Rusia untuk membuka rekening di Gazprombank, yang akan mengkonversikan pembayaran dalam euro atau dolar ke dalam rubel. Polandia juga mengatakan mereka tidak akan memperpanjang kontrak.

Kantor berita Rusia, TASS mengutip pembicaraan dengan majelis tinggi parlemen Rusia, yang mengatakan negara itu telah siap dengan kemungkinan jika Eropa akan berhenti membeli pasokan energi Rusia.

Eropa bergantung pada Rusia untuk mendapatkan 40 persen kebutuhan gas alamnya.

Total pasokan gas Rusia ke Eropa tahun lalu sekitar 155 miliar meter kubik (bcm) dan sekitar 52 bcm telah diangkut melalui Ukraina sebagai rute terdekat.

Rute alternatif lainnya, termasuk Yamal-Eropa, yang melintasi Belarusia dan Polandia ke Jerman, serta pipa Nord Stream 1 yang mengalir di bawah laut Baltik ke Jerman.

Sebagian besar negara di Eropa telah mengurangi ketergantungan mereka pada gas Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, Ukraina dijadikan sebagai transit untuk gas yang akan dibawa ke Slovakia, kemudian ke Austria dan Italia.

Perusahaan energi Rusia, Gazprom Neft. (RCI)

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden telah memberlakukan larangan impor minyak Rusia dan energi lainnya. Inggris juga mengatakan akan menghentikan impor energi Rusia hingga akhir 2022. Uni Eropa (UE) mengatakan tahun ini ingin memotong gas Rusia hingga dua pertiga, dan mengakhiri ketergantungannya pada pasokan Rusia sebelum tahun 2030.

Langkah-langkah negara Eropa

Beberapa negara memiliki opsi pasokan alternatif dan jaringan gas Eropa saling terhubung, sehingga pasokan dapat dibagi, walaupun pasar gas global sudah menunjukan gejolak sebelum meletusnya krisis Ukraina.

Sebagai konsumen gas terbesar Rusia, Jerman yang telah menghentikan sertifikasi pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia, karena konflik di Ukraina, dapat mengimpor gas dari Inggris, Denmark, Norwegia dan Belanda.

Asosiasi utilitas Jerman, BDEW telah menyerukan rencana darurat pemerintah untuk mengantisipasi dari gangguan pasokan gas Rusia.

Perusahaan energi Norwegia, Equinor mengatakan sedang mempertimbangkan cara untuk memproduksi lebih banyak gas dari ladang Norwegia selama musim panas mendatang di Eropa.

Sedangkan Eropa Selatan dapat menerima gas Azebaijani melalui Pipa Trans Adriatic ke Italia, dan Pipa Gas Alam Trans-Anatolia (TANAP) melalui Turki.

Pekan lalu, AS mengatakan akan mengirimkan 15 miliar meter kubik gas alam cair (LNG) ke Uni Eropa pada tahun ini. Namun pemerintah AS tidak merinci jumlah atau persentase pasokan LNG tambahan yang akan datang dari Amerika Serikat. Kilang LNG AS berproduksi dengan kapasitas penuh, dan analis mengatakan sebagian besar tambahan gas AS yang dikirim ke Eropa akan diekspor dari tempat lain.

Terminal LNG Eropa juga memiliki kapasitas terbatas untuk impor tambahan, meskipun beberapa negara Eropa mengatakan mereka sedang mencari cara untuk memperluas impor dan penyimpanannya.

Kontrak PGNiG Polandia dengan Gazprom untuk 10,2 miliar meter kubik per tahun, mencakup sekitar 50 persen dari konsumsi nasional Polandia.

PGNiG mengatakan pada Selasa (26/4/2022) kemarin, pihaknya akan mengambil langkah-langkah untuk memulihkan aliran gas sesuai dengan kontrak dan menyebut menghentikan pasokan gas termasuk ke dalam pelanggaran kontrak. PGNiG juga mengatakan mereka memiliki hak untuk menuntut ganti rugi dalam kasus tersebut.

Beberapa negara berusaha untuk mengisi kesenjangan dalam pasokan energi dengan beralih ke impor listrik melalui interkonektor dari negara tetangga mereka, atau dengan meningkatkan pembangkit listrik dari nuklir, energi terbarukan, tenaga air dan batu bara.

Komisi Eropa mengatakan gas dan LNG dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan Qatar tahun ini dapat menggantikan 60 miliar meter kubik (bcm) pasokan Rusia. Proyek pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru, diprediksi dapat menggantikan 20 bcm permintaan gas tahun ini.

Sementara itu, ketersediaan nuklir menurun di Belgia, Inggris, Prancis, dan Jerman, karena pembangkit listrik tenaga nuklir di negara-negara tersebut telah menghadapi pemadaman seiring bertambahnya usia, atau telah dinonaktifkan atau dihentikan.

Eropa mencoba beralih dari penggunaan batubara untuk mengurangi krisis iklim, namun beberapa pembangkit listrik batu bara telah diaktifkan kembali sejak pertengahan tahun 2021, yang diakibatkan karena melonjaknya harga gas.

Jerman bersedia untuk memperpanjang umur pembangkit listrik tenaga batu bara atau nuklirnya, untuk mengurangi ketergantungan pada gas Rusia.

Menurut para analisis, jika Jerman tidak mendapat cukup pasokan gas, maka industri-industri negara itu, yang menyumbang seperempat dari konsumsi gas Jerman, akan menjadi korban pertama dari kekurangan pasokan gas.

Dalam 15 tahun terakhir, Rusia dan Ukraina juga terlibat dalam perselisihan karena pasokan gas, yang sebagian besar perselisihan disebabkan karena tingginya harga gas.

Pada tahun 2006, Gazprom memotong pasokan ke Ukraina selama satu hari. Pada musim dingin 2008/2009, gangguan pasokan Rusia melanda seluruh Eropa. Rusia kembali memutuskan pasokan ke Kyiv pada tahun 2014, setelah Rusia mencaplok Krimea.

Ukraina berhenti membeli gas Rusia pada November 2015, dan mengimpor gas dari negara-negara UE, dengan membalikkan aliran di beberapa jalur pipanya.

Baca juga !