Wed. Nov 30th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Terlunta-lunta Nasib Siswi Sekolah Menengah Setelah Taliban Buka Sekolah

3 min read

Kabul –

Nasib para siswi sekolah menengah di Afghanistan masih terlunta-lunta pasca Taliban melakukan pembukaan sekolah. Dalam pengumuman yang disampaikan Kementerian Pendidikan baru Taliban, siswi perempuan tidak disertakan dalam pembukaan sekolah menengah. Hanya laki-laki yang disebut.

“Seluruh guru pria dan murid-murid laki-laki harus kembali ke sekolah menengah,” demikian isi pengumuman yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan baru Taliban terkait pembukaan sekolah Sabtu (18/9), seperti dilansir BBC, Minggu (19/9/2021).

Sekolah tingkat menengah di Afghanistan biasanya didominasi murid-murid usia 13 hingga 18 tahun. Kebanyakan sekolah tersebut menerapkan sistem segregasi.

Mujahid menyebut saat ini para pejabat sedang membahas ‘prosedur’ terkait dan akan segera merinci pembagian guru. Kepada BBC, Mujahid juga menjelaskan bahwa pihaknya juga sedang membahas terkait transportasi bagi siswa perempuan.

Merespon sikap Taliban, para siswi perempuan dan orang tua mereka tidak menaruh terlalu banyak harapan. Menurut mereka janji Taliban hanya berpeluang sangat kecil bagi masa depan pendidikan kaum perempuan.

“Saya sangat khawatir dengan masa depan saya” kata seorang siswi perempuan di Afghanistan, yang berharap menjadi pengacara.

“Semuanya terlihat sangat gelap. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?” imbuhnya.

Sang ayah pun turut mengeluhkan kondisi tersebut sembari berkata, “Ibuku dulu buta huruf, dan ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya idiot. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku.”

Pihak sekolah menengah juga menyebutkan kondisi para siswi. Mereka masih menanti kabar baik bagi pendidikan perempuan di Afghanistan.

“Semangat mereka turun dan mereka menunggu pengumuman pemerintah agar mereka bisa melanjutkan sekolah,” kata Hadis Rezaei, yang mengajar murid perempuan tingkat menengah.

“Pendidikan anak perempuan adalah memperbaiki generasi. Pendidikan anak laki-laki dapat mempengaruhi keluarga. Tapi pendidikan anak perempuan mempengaruhi masyarakat. Kami sangat ketat mengikuti masalah ini sehingga anak perempuan dapat melanjutkan pendidikan mereka dan menyelesaikan studi mereka.” imbuhnya

Siswi Sekolah Dasar Belajar Terpisah

Berbeda dengan kondisi di sekolah menengah, siswi di sekolah dasar sudah diizinkan bersekolah. Mulai Sabtu (18/9) lalu, mereka bersekolah secara terpisah dengan siswa laki-laki.

Sejak sebulan lalu, sebagian besar sekolah di ibu kota Kabul tutup pasca Taliban merebut kekuasaan. Pejabat Taliban mengatakan mereka tidak akan kembali ke kebijakan fundamentalis di masa lampau dan berjanji bahwa anak perempuan akan dapat belajar, namun hanya di ruang kelas yang terpisah.

Nazife, seorang guru di sebuah sekolah swasta di Kabul yang memiliki ruang kelas campuran sebelum pengambilalihan Taliban, mengatakan mereka telah membuat perubahan kebijakan agar sekolah bisa kembali dibuka.

“Anak perempuan belajar di pagi hari dan anak laki-laki di sore hari,” katanya. “Guru laki-laki mengajar anak laki-laki dan guru perempuan mengajar anak perempuan.” lanjutnya.

Sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001, kemajuan besar telah dibuat dalam meningkatkan pendidikan dan tingkat melek huruf di Afghanistan – terutama untuk anak perempuan. Jumlah anak perempuan di sekolah dasar meningkat dari hampir nol menjadi 2,5 juta, sementara tingkat melek huruf perempuan hampir dua kali lipat dalam satu dekade menjadi 30%.

Namun sejak Taliban kembali berkuasa, kebijakan soal pendidikan terhadap perempuan tampaknya akan kembali ke masa lalu.

“Ini adalah kemunduran dalam pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan Afghanistan,” kata Nororya Nizhat, mantan juru bicara Kementerian Pendidikan.

“Ini mengingatkan semua orang tentang apa yang dilakukan Taliban di tahun 90-an. Kami berakhir dengan generasi perempuan yang buta huruf dan tidak berpendidikan.” imbuhnya.

Baca juga !