Sat. Oct 8th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Trump Sebut Presiden Korsel Pemimpin Lemah, Akui Lebih Suka Kim Jong-Un

2 min read

Washington DC –

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyerang Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-In, dengan menyebutnya pemimpin lemah dan menuduhnya telah menipu AS. Di sisi lain, Trump kembali mengungkit persahabatannya dengan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-Un.

“Kim Jong-Un dari Korea Utara, yang saya kenal (dan saya sukai) dalam keadaan paling sulit, tidak pernah menghormati Presiden Korea Selatan saat ini, Moon Jae-In,” sebut Trump dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (24/4/2021).

“Presiden Moon lemah sebagai pemimpin dan perunding, kecuali jika menyangkut soal penipuan militer jangka panjang dan berkelanjutan terhadap AS … Kita diperlakukan seperti orang bodoh selama bertahun-tahun, namun, saya membuat mereka membayar miliaran dolar lebih banyak untuk perlindungan militer dan layanan yang kita berikan,” cetus Trump.

Selama kepresidenannya, Trump memposisikan diri sebagai perunding utama dalam perundingan damai di Semenanjung Korea.

Dia pertama kali bertemu Kim Jong-Un di Singapura pada Juni 2018. Pertemuan itu mencetak sejarah sebagai pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara yang secara teknis masih berperang. Trump pada saat itu menyebut dirinya dan Kim Jong-Un ‘jatuh cinta’.

Keduanya kembali bertemu dua kali selama Trump menjabat dan Korut menghentikan sementara uji coba nulir serta rudal-rudalnya. Namun para analis menyatakan Korut masih berupaya mengembangkan program nuklirnya.

Pada Maret lalu, Korsel sepakat membayar 13,9 persen lebih banyak untuk biaya kehadiran pasukan militer AS di Semenanjung Korea. Perselisihan finansial ini sempat mengganggu aliansi kedua negara.

AS diketahui menempatkan 28.500 tentaranya di wilayah Korsel, untuk membela sekutunya dari serangan nuklir Korut dan melindungi kepentingan AS di Asia Timur.

Di bawah kesepakatan baru, Korsel setuju membayar 1,18 triliun Won pada tahun 2021. Jumlah itu mewakili kenaikan 13,9 persen terhadap biaya US$ 920 juta yang sebelumnya dibayarkan Korsel di bawah kesepakatan yang lama, yang berakhir tahun 2019.

Baca juga !