Sat. Nov 27th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Uji Nyali Arung Jeram di Lubuk Linggau

4 min read
 Menyusuri Lubuk Linggau, jangan lupa mencoba rafting. Selain memacu adrenalin, bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.Dinginnya fajar beserta matahari yang mulai muncul dari balik puncak puncak belantara menyapa kami. Abu kayu sisa api unggun dan gelas gelas berampas kopi hasil briefing kemarin malam untuk mulai kami bereskan. Sementara kami dan beberapa orang bersiap menyiapkan segala peralatan yang akan digunakan untuk menyusuri jeram di sungai Air Manna, Desa Air Tenam yang berjarak 40 km dari pusat kota Manna, Bengkulu Selatan.

Mengikuti arahan instruktur kami, bang Ernest yang bertindak sebagai pendamping olahraga arus deras di Sungai Air manna ini, kami mencoba meregangkan otot otot sebelum mulai mencoba melakukan aktivitas nyata kami di air. Sebelum turun lapangan, sesuai arahan sebelumnya, kami dan 5 orang yang akan turun di trip pertama memulai pemanasan dengan mengayuh dayung yang nanti akan digunakan. 1 menit bergantian dari arah kiri ke kanan. Beberapa hal seperti nama-nama kayuhan diantaranya dayung maju, dayung tarik, dayung mundur dan dayung pancung serta tugas tugas yang harus diketahui saat rafting, misalkan tugas seorang skipper yang bertindak sebagai leader dalam pengarungan yang sebelumnya kami pelajari di materi ruang yang diajarkan, kami praktikan saat itu.

Setelah pemanasan, saya dan teman teman turun menuju ke tepian sungai Air Tenam yang memiliki lebar berkisar 20 meter. Dari tepian sungai dengan batu batu besar tersebut, kami diminta satu persatu untuk familiar dengan suasana sungai. Saat itu, yang saya khawatirkan adalah bahwa saya sendiri tidak bisa berenang. Bahkan mengapung saja untuk saya masih belum bisa saya lakukan. Tapi para senior yang telah berpengalaman rafting menenangkan saya dan 2 orang teman saya yang ternyata juga memiliki ketakutan yang sama. Takut tenggelam.Â

Dimulai dengan renang jeram, kami diberikan sebuah dayung. Dan memulai untuk masuk ke perahu dan diturunkan di tengah tengah arus, yang tidak terlalu kencang dan diminta untuk berenang atau mengapung mengikuti arus. Setelah melihat beberapa senior yang lain memulai dan mencontohkan, saya mencoba untuk memberanikan diri untuk ikut dan mencoba. Pengalaman yang sayang jika dilewatkan. Tapi rasa takut masih bergejolak lebih besar.  Sehingga saya menunggu giliran terakhir.

Saat turun, Bang Ernest dan Bang Hendra kembali menenangkan saya dan berkata bahwa percaya pada pelampung yang kami kenakan. Serta ada pengawas yang selalu memantau dan siap mengulurkan tali.

Woohoo… Jantung saya pun berdebar debar saat kaki saya menyentuh arus sungai. Saya turun dari perahu sambil mulai berbaring menghadap langit dan mencoba untuk mengapungkan diri. Sekali lagi berkata saya akan baik baik saja, sama seperti yang dilakukan oleh yang lain.

Ya, akhirnya saya mematahkan rasa takut saya terhadap air. Arus membawa saya melintasi batu-batuan di sungai dan melewati arus utama, kira kira sejauh 200 meter. Renang jeram pertama saya, dan latihan ini terasa sangat luar biasa.

Saatnya Mencoba Jeram yang Sesungguhnya!

Tapi ini baru latihan teman teman. Petualangan selanjutnya, kami benar benar mencoba mengarungi jeram Air Manna ini. Perahu dibawa ke tepian, dan 6 orang dari kami naik dan memegang posisi dayung masing masing. Bang Bima sebagai skipper saat itu, memulai memberi arahan untuk melajukan perahu. Dimulai dengan mengikuti arus utama, tujuan utama kami adalah sampai di wilayah Geluguran sebagai titik finish yang berjarak sekitar 10 – 12 kilometer dari titik start kami saat ini.

Pemandangan yang menawan menjumpai kami sepanjang kami mengarungi arus utama sungai. Pesona belantara yang masih terjaga di kiri kanan sungai menyegarkan mata. Udara yang sejuk dan dingin dari air dan pepohonan juga terasa menenangkan. Tanpa terasa kami harus melewati kelokan (bend) dan batu batuan (pillow). Peran skipper dituntut cepat tanggap melihat arus didepan.

Batu besar pertama kami lewati. Setelah mengayuh dan membelokkan perahu kembali ke lajur, kami kembali menemui batu besar yang membuat perahu yang kami gunakan menyangkut. Kami berusaha membelokkan sambil mengayuh dengan kompak, namun usaha kami belum berhasil. Bang Ari turun dari perahu dan berenang untuk menggeser perahu agar kembali ke lajur, dan usahanya berhasil. Kami melanjutkan arung jeram bagian kami. Skipper mengingatkan kami ada jeram tajam di depan. Dengan sigap posisi depan mengatur laju perahu dan kami berhasil melewatinya.

Setelah sampai di arus yang agak tenang, kami beristirahat sambil mendengarkan arahan. Cukup lelah juga rasanya. Terlihat dari wajah rekan rekan yang kelelahan dan mecari sebotol minuman bergantian. Arahan yang diberikan bang Ernest saat itu ialah kami diminta untuk melakukan skenario flipping. Yaitu latihan untuk melihat apa yang harus dilakukakn jika perahu yang digunakan kemungkinan terbalik saat rafting. Membayangkan perahu terbalik saja sudah ngeri, dan ini benar benar dicoba pula. Benar benar extraordinary challenge buat saya kala itu.

Selain mencoba rafting dan kegiatan kelompok alam bebas yang masih asri seperti ini, rasanya pengalaman lain seperti mengunjungi gurun pasir harus juga saya coba. Dubai sebagai salah satu referensi kota paling maju di dunia saat ini menawarkan fasilitas untuk mewujudkan impian saya itu. Dubai memang Dream destination untuk orang orang penggiat petualangan seperti saya. Selain gurun pasir, pemandangan kota Dubai yang bisa dilihat langsung dari Top of burj khalifa pasti akan sangat menakjubkan dan akan terekam dengan sangat apik dalam ingatan. Semoga kesampaian, deh untuk berkunjung kesana. Saatnya bersiap siap menaklukan petualangan lainnya !

Baca juga !