Fri. Dec 9th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Wajah Baru Afghanistan di Bawah Kekuasaan Taliban

5 min read

Kabul –

Taliban meraih kemenangan atas Afghanistan setelah 20 tahun berperang. Lalu bagaimana wajah Afghanistan di tangan Taliban ke depan?

Taliban melakukan kemajuan pesat yang mengejutkan dengan merebut Kabul pada 15 Agustus lalu. Mereka mencapai kemenangan saat pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu belum meninggalkan Afghanistan secara penuh.

Kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan orang Afghanistan mengungsi. Padahal, pasukan Taliban telah berjanji untuk tidak membiarkan Afghanistan menjadi basis teroris yang dapat mengancam Barat.

Pertanyaan pun muncul dari masyarakat Internasional. Bagaimana Taliban akan memerintah Afghanistan? Bagaimana mereka memandang perempuan, hak asasi manusia, dan kebebasan politik?

Pendiri Taliban Mullah Baradar Pemimpin Baru Afghanistan

Salah satu pendiri Taliban, Mullah Baradar, disebut akan memimpin pemerintahan baru Afghanistan. Baradar kini menjabat sebagai kepala kantor politik Taliban.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (3/9/2021), informasi itu diungkapkan setidaknya tiga sumber Taliban yang dikutip Reuters.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa Mullah Mohammad Yaqoob yang merupakan anak mendiang pendiri Taliban, Mullah Omar, dan Sher Mohammad Abbas Stanekzai, akan menempati posisi senior dalam pemerintahan baru tersebut.

Pemerintahan baru Afghanistan dikatakan akan diumumkan dalam waktu dekat. “Seluruh pemimpin terkemuka telah tiba di Kabul, di mana persiapan memasuki tahap akhir untuk mengumumkan pemerintahan baru,” tutur salah satu petinggi Taliban yang enggan disebut namanya kepada Reuters.

Bagaimana Wajah Baru Afghanistan saat Ini?

Bagaimana cara Taliban memerintah Afghanistan saat ini belum diketahui dengan jelas. Kaum perempuan di sana menghadapi masa depan yang abu-abu.

Pihak Taliban yang diwakili oleh juru bicara, Suhail Shaheen mengatakan, kelompok itu akan menghormati hak-hak perempuan. Mereka juga mengklaim akan melindungi hak minoritas “sesuai dengan norma-norma Afghanistan dan nilai-nilai Islam”.

Para militan telah mengumumkan amnesti di seluruh Afghanistan. Mereka menambahkan bahwa ingin perempuan bergabung dengan pemerintahnya.

Akan tetapi ada ketakutan atas kebebasan perempuan untuk bekerja, berpakaian sesuai pilihan mereka. Bahkan meninggalkan rumah sendirian di bawah pemerintahan Taliban.

Potensi Tempat Terorisme

Ketakutan lainnya Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban ini adalah akan menjadi tempat pelatihan terorisme. Pejabat Taliban bersikeras bahwa mereka akan sepenuhnya mematuhi kesepakatan AS dan mencegah kelompok mana pun menggunakan tanah Afghanistan sebagai basis serangan terhadap AS dan sekutunya.

Taliban mengklaim bahwa mereka hanya bertujuan untuk menerapkan “pemerintahan Islam”. Mereka menambahkan bahwa tidak akan menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Namun para analis memandang hal yang berbeda, Taliban dan al-Qaeda tidak dapat dipisahkan, dengan para pejuang yang sangat melekat dan terlibat dalam kegiatan pelatihan. Penting juga untuk diingat bahwa Taliban bukanlah kekuatan yang terpusat dan bersatu.

Perang Sejak 2001

Semua berawal kala AS mengalami serangan 9/11 tahun 2001 lalu. Saat itu serangan terjadi di New York dan Washington, di mana hampir 3.000 orang tewas.

Pejabat AS mengidentifikasi kelompok militan Islam al-Qaeda, dan pemimpinnya Osama Bin Laden, sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Osama Bin Laden saat itu berada di Afghanistan. Dia ada di bawah perlindungan Taliban, kelompok Islamis yang telah berkuasa sejak 1996. Ketika mereka menolak untuk menyerahkannya, AS melakukan intervensi militer.

Dengan cepat AS menyingkirkan Taliban. AS bersumpah untuk mendukung demokrasi serta menghilangkan ancaman teroris. Selain itu, sekutu NATO telah bergabung dengan AS dan pemerintah Afghanistan yang baru untuk mengambil alih pemerintahan pada tahun 2004.


Namun demikian serangan mematikan dari Taliban terus berlanjut. Barack Obama yang menjadi Presiden AS pada tahun 2009 membantu menekan Taliban.
Obama Kirim Pasukan

“Gelombang pasukan” Presiden Barack Obama pada tahun 2009 membantu dalam menekan kembali Taliban tetapi itu tidak jangka panjang.

Pasukan internasional NATO mengakhiri misi tempur mereka pada tahun 2014. Itulah akhir dari tahun paling berdarah sejak 2001.

Pasukan NATO pun menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Afghanistan. Peristiwa itu memberi momentum kepada Taliban dan mereka merebut lebih banyak wilayah.

Pembicaraan AS dan Taliban

Pembicaraan Taliban dan AS mulai dibuka secara tentatif. Namun pemerintah Afghanistan hampir tidak terlibat. Akhirnya muncullah kesepakatan tentang penarikan pasukan AS dan sekutu pada Februari 2020 di Qatar.

Akan tetapi, kesepakatan AS-Taliban tidak menghentikan serangan militan itu. Taliban mengalihkan fokus serangan mereka ke pasukan keamanan Afghanistan, warga sipil, dan menargetkan pembunuhan. Area kendali mereka tumbuh.


Lalu siapakah kelompok Taliban ini? Taliban terbentuk dalam perang saudara yang mengikuti penarikan pasukan Soviet pada tahun 1989, terutama di barat daya dan daerah perbatasan Pakistan.
Siapa Taliban?

Taliban bersumpah untuk memerangi korupsi dan meningkatkan keamanan. Akan tetapi mereka juga menerapkan ajaran Islam yang keras. Pada tahun 1998, mereka telah menguasai hampir seluruh negeri.

Taliban saat itu menegakkan Syariah Islam garis keras versi mereka sendiri, atau hukum Islam, dan menerapkan hukuman brutal. Pria diperintahkan untuk menumbuhkan janggut dan perempuan harus mengenakan burka yang menutupi semua tubuhnya.

Selain itu, TV, musik, dan bioskop dilarang. Setelah penggulingan, kelompok Taliban berkumpul kembali di daerah perbatasan Pakistan.

Seberapa mahal perang itu?

Dalam hal hilangnya nyawa manusia, jelas tidak mudah untuk mengatakan jumlah dengan tepat. Pendataan korban koalisi tercatat jauh lebih baik daripada jumlah warga sipil Taliban dan Afghanistan.

Penelitian oleh Brown University memperkirakan sekitar 69.000 pasukan keamanan Afghanistan tewas, kemudian menempatkan jumlah warga sipil dan militan yang tewas masing-masing sekitar 51.000.

Lebih dari 3.500 tentara koalisi tewas sejak 2001 – sekitar dua pertiga dari mereka adalah orang Amerika – dan lebih dari 20.000 tentara AS terluka. Menurut PBB, Afghanistan memiliki populasi pengungsi terbesar ketiga di dunia.

Sejak 2012, sekitar lima juta orang telah melarikan diri dan tidak dapat kembali ke rumah, baik mengungsi di Afghanistan atau berlindung di negara-negara tetangga.

Penelitian Brown University juga menempatkan pengeluaran AS untuk konflik – termasuk dana militer dan rekonstruksi di Afghanistan dan Pakistan – sebesar $978 miliar atau lebih dari 13 ribu triliun rupiah hingga 2020.

Buka Pintu Perundingan Damai dengan AS

Taliban saat ini juga mengatakan pihaknya akan membuka pintu perundingan perdamaian dengan AS. Beberapa pemimpin mereka ingin membuat Barat diam dengan tidak menimbulkan masalah.

Namun demikian kelompok garis keras mungkin enggan memutuskan hubungan dengan al-Qaeda. Seberapa kuat al-Qaeda dan apakah sekarang bisa membangun kembali jaringan globalnya juga tidak jelas.

Masalah lain adalah adanya cabang regional kelompok Negara Islam – ISKP (Provinsi Khorasan) – yang ditentang Taliban. Seperti al-Qaeda, ISKP telah diserang oleh AS dan NATO, tetapi pasca-penarikan mereka dapat untuk berkumpul kembali.

Jumlah pejuangnya mungkin hanya antara beberapa ratus dan 2.000. Tetapi mungkin saja dapat menancapkan pijakan di Kazakhstan, Kyrgyzstan dan bagian dari Tajikistan, yang bisa menjadi perhatian regional yang serius.

Biden Perangi ISIS-K: Kami Belum Selesai dengan Anda!

Presiden AS Joe Biden memperingatkan ISIS-K yang mendalangi bom bunuh diri di Bandara Kabul, Afghanistan. Biden mengatakan bahwa AS akan terus melakukan pembalasan dan melawan terorisme.

“Kami akan mempertahankan perang melawan terorisme di Afghanistan dan negara-negara lain,” kata Biden seperti dilansir AFP, Rabu (1/9).

“Dan untuk ISIS-K: Kami belum selesai dengan Anda,” katanya, menggunakan akronim lain untuk cabang Afghanistan dari kelompok jihadis Negara Islam.

Baca juga !